Senin, 14 Maret 2016

ACTIVITY BASED COSTING (ABC) DAN ACTIVITY BASED MANAGEMENT (ABM)



ACTIVITY BASED COSTING (ABC) DAN ACTIVITY BASED MANAGEMENT (ABM)
A.     Pengertian Activity Based Costing ( ABC )
Sebelum mengetahui apa itu yang dimaksud dengan Activity Based Costing (ABC), telebih dahulu kita mengenal istilah-istilah yang disebut dengan aktivitas, sumber daya, objek biaya, cost poll, elemen biaya, dan cost driver.
Aktivitas merupakan tindakan, gerakan, atau rangkaian dari suatu pekerjaan yang dilakukan. Aktivitas juga dapat diartikan sebagai kumpulan dari tindakan yang dilakukan dalam organisasi yang berguna untuk tujuan penentuan biaya berdasarkan aktivitas yang ada. Misalnya pemindahan bahan merupakan suatu aktivitas dari pergudangan.
Sumber daya merupakan unsur yang dibebankan atau yang digunakan dalam pelaksaan suatu aktivitas. Misalnya : gaji dan bahan merupakan sumber daya yang digunakan untuk melakukan suatu aktivitas.
Objek biaya merupakan bentuk akhir dimana pengukuran biaya itu diperlukan. Misalnya, pelanggan, produk, jasa, kontrak , atau unit kerja lainnya dimana manajemen menginginkan pengukuran biaya secara terpisah merupakan objek biaya.
Elemen biaya merupakan jumlah yang dibayarkan untuk sumber daya yang dikonsumsi aktvitas dan yang terkandung di dalam cost poll. Misalnya untuk hal-hal yang berkaitan dengan mesin mungkin mengandung elemen biaya untuk tenaga, elemen biaya teknik, dan elemen biaya depresiasi.
Cost driver merupakan faktor-faktor yang menyebabkan perubahan biaya aktivitas, juga merupakan faktor yang dapat diukur yang dapat digunakan untuk membebankan biaya ke aktivitas dan dari aktivitas ke aktivitas lainnya, produk atau jasa. Ada dua jenis cost driver, yaitu :
1.      Driver sumber daya adalah ukuran kuantitas sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas. Driver sumber daya ini digunakan untuk membebankan biaya sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas ke cost poll tertentu. Contohnya adalah presentase dari luas total yang digunakan oleh suatu aktivitas.
2.      Driver aktivitas adalah ukuran frekuensi dan intensitas permintaan terhadap suatu aktivitas terhadap objek biaya. Driver aktivitas digunakan untu membebankan biaya dari cost poll ke objek biaya. Contohnya, jumlah suku cadang yang berbeda yang digunakan dalam produk akhir untuk mengukur konsumsi aktivitas penanganan bahan untuk setiap produk.
Activity Based  Costing adalah metode pembebanan aktivitas-aktivitas berdasarkan besarnya pemakaian sumber daya, dan membebankan biaya pada objek biaya, seperti produk atau pelanggan, berdasarkan besarnya aktivitas, serta untuk mengukur biaya dan kinerja dari aktivitas yang terkait dengan proses dan objek biaya.
Pengertian mendasar dari sistem ABC adalah adanya analisa terhadap keseluruhan aktivitas-aktivitas yang bertujuan untuk mengidentifikasi adanya hal-hal sebagai berikut :
1.      Aktivitas yang ada dalam tiap-tiap dapartemen dan sebab timbulnya aktivitas
2.      Dalam kondisi yang bagaimana setiap aktivitas tersebut dilaksanakan.
3.      Bagaimana frekuensi masing-masing aktivitas dalam pelaksanaannya.
4.      Sumber-sumber yang dikonsumsi untuk melakasanakan masing-masing aktivitas.
5.      Faktor-faktor apa yang menjadi penyebab timbulnya aktivitas tersebut atau pembenahan atas sumber daya yang dimiliki perusahaan.
            Dalam Activity Based Costing (ABC) semua biaya dibebankan ke produk yang menimbulkan aktivitas atau apabila ada alasan yang mendasar bahwa biaya tersebut dipengaruhi oleh produk yang dibuat, baik biaya produksi, maupun biaya non-produksi.          
            ABC atau penentu harga pokok produk berbasis aktivitas merupakan sistem informasi tentang pekerjaan atau kegiatan yang mengkonsumsi sumber daya dan menghasilkan nilai bagi konsumen. Defenisi lain ABC adalah suatu informasi yang dapat menyajikan secara akurat dan tepat waktu mnegenai pekerjaan atau aktvitas yang mengkonsumsi sumber biaya aktivitas untuk mencapai tujuan pekerjaan produk dan pelanggan. ABC dirancang untuk mengukur harga pokok produk melalui aktivitas-aktivitas. Biaya-biaya akan diukur dari aktivitas ke produk berdasarkan permintaan tiap-tiap produk terhadap aktivitas selama proses produksi, sehingga biaya yang timbul masing-masing jenis produk akan terlihat lebih jelas. Sistem tersebut menerapkan sistem akuntansi aktivitas untuk menghasilkan perhitungan harga pokok produk yang lebih akurat.


B.     Alokasi Biaya
Secara tradisional, akuntan membebankan biaya kepada produk hanya berpedoman pada banyak sedikitnya jumlah unit yang dihasilkan sebagai satu-satunya faktor yang menyebabkan biaya dan aktivitas muncul. Akuntan menggunakan volume related cost driver untuk membebankan biaya. Setelah ditelusuri ternyata beberapa biaya dan aktivitas yang muncul bukan dipicu oleh jumlah unit yang diproduksi sehingga tidak semua biaya overhead yang muncul dipicu oleh jumlah unit yang diproduksi. Dalam hal ini akuntan harus mengetahui dasar apa yang bisa digunakan untuk mengalokasikan biaya atas aktivitas dan mengetahui cost driver yang rasional (Cost Driver merupakan faktor-faktor yang menimbulkan timbulnya biaya).
            Dalam ABC, proses identifikasi aktivitas merupakan salah satu bagian yang penting dari tahapan tahapan pembbebanan biaya overhead pabrik. Tahap pertama pada identifikasi aktivitas, aktivitas yang luas dikelompokkan ke dalam 4 kategori aktivitas, yaitu :
1.      Unit Level Activities
Berupa aktivitas atau kegiatan yang dilakukan yang dilakukan sekali untuk setiap unit sehingga biaya produk yang berhubungan dengan aktivitas yang dibebankan berdasarkan jumlah unit yang diproduksi. Misalnya : jam tenaga kerja langsung. Semakin banyak jumlah unit yang diproduksi maka semakin  banyak juga tenaga kerja langsung dibutuhkan.
2.      Bacth Level Activity
Yaitu berupa ativitas atau kegiatan yang dilakukan untuk mendukung produksi sejumlah order tertentu (batch). Aktivitas ini dilakukan sekali untuk setiap batch sehingga biaya produksi yang berhubungan dengan aktivitas ini dibebankan berdasrkan jumlah batch yang diproduksi misalnya : biaya set-up mesin. Semakin banyak unit yang diproduksi tidak mempengaruhi biaya pada aktivitas set-up, tetapi semakin sering set-up dilakukan maka semakin besar pula biaya set-up mesin
3.      Product Sustaining Activities
Berupa aktivitas atau kegiatan yang dilakukan untuk mempertahankan eksistensi suatu produk, pemeliharaan produk, pengembangan produk dan inovasi produk. Beban biaya yang terjadi pada aktivitas ini dapat ditelusuri pada setiap jenis produk yang dihasilkan, tetapi sumber daya yang dikonsumsi tidak tergantung pada jumlah unit ataupun batch dari produk yang dihasilkan perusahaan. Semakin banyak jenis produk yang dihasilkan maka semakin sering aktivitas ini dilakukan sehingga semakin besar biaya yang dibutuhkannya.
4.      Facility Sustaining Activities.
Berupa aktivitas atau kegiatan yang dilakukan untuk mempertahankan eksistensi perusahaan, seperti pemasaran, sumber daya manusia, pengembangan sistem, pemeliharaan fasilitas dan lain-lain. Tetapi aktivitas ini tidak berhubungan dengan jumlah produk, batch maupun jenis produk.
Sedangkan pada saat melakukan pembebanan biaya dari tiap kelompok tersebut, biaya yang muncul tersebut diklasifikasikan sesuai dengan kelompok aktivitasnya, sehingga dalam membebankan biaya sistem ABC dapat digambarkan dengan dua tahapan, yaitu :
1.      Aktivitas yang dilakukan untuk memenuhi keinginan customer mengkonsumsi sumber daya dalam sejumlah uang tertentu.
2.      Biaya setiap sumber daya yang dikonsumsi oleh setiap aktivitas harus dibebankan objek biaya atas dasar unit aktivitas yang dikonsumsi oleh objek biaya itu sendiri.

C.     Konsep Dasar Sistem ABC
Ada dua asumsi yang penting yang mendasari metode ABC, yaitu :
1.      Aktivitas-aktivitas yang menyebabkan timbulnya metode ABC bahwa sumber daya pembantu atau sumber daya tidak langsung menyediakan kemampuannya melaksanakan kegiatan bukan hanya penyebab timbulnya biaya.
2.      Produk atau pelanggan jasa produk menyebabkan timbulnya permintaan atas dasar aktivitas untuk membuat produk atau jasa yang diperlukan berbagai kegiatan yang menimbulkan sumber daya untuk melaksanakan aktivitas tersebut.
Asumsi tersebut diatas merupakan konsep dasar dari sistem activity Based Costing. Selanjutnya, karena adanya aktivitas akan menimbulkan biaya, maka untuk dapat menjalankan usahanya secara efisien, perusahaan harus dapat mengelola aktivitasnya. Dalam hubungannya dengan biaya produk maka biaya yang dikonsumsi untuk menghasilkan produk adalah biaya-biaya untuk aktivitas merancang, merekayasa, memproduksi, menjual dan memberikan pelayanan produk.

D.     Perbedaan Tradisional (Job Order Costing) dan ABC
Perusahaan yang menggunakan ABC adalah perusahaan yang memproduksi berbagai jenis barang seperti dalam perusahaan yang menggunakan job order costing. Sistem job order costing disebut sistem tradisional dan ABC adalah :
No
Tradisional (Job Order Costing)
ABC
1
Semua produk dibebani biaya produksi, meskipun produk tertentu tidak mengkonsumsi biaya produksi tersebut
Tarif BOP ditentukan didepan berdasarkan biaya yang dianggarkan atau tingkatan aktivitas yang diharapkan.
2
Biaya non produksi seperti biaya administrasi dan pemasaran tidak dibebankan ke produk tertentu, meskipun biaya tersebut muncul karena memproduksi produk tertentu tersebut
Beberapa biaya produksi dikeluarkan atau tidak dimasukkan sebagai biaya produksi barang tertentu, jika biaya produksi tersebut muncul bukan karena memproduksi barang tertentu tersebut atau dengan kata lain, biaya produksi barang tertentu hanya dibebani biaya yang timbul karena memproduksi barang tersebut
3
Biaya produksi selain bahan baku dan tenaga kerja langsung dijadikan satu kelompok BOP dengan satu ukuran, umumnya diukur berdasarkan jam kerja tenaga kerja langsung atau jam kerja mesin
Terdapat lebih dari satu poll atau kelompok biaya yang tidak dapat ditelusuri (BOP, administrasi, pemasaran), dimana masing-masing kelompok biaya mempunyai ukuran aktivitas tersendiri, sehingga mempunyai tarif tersendiri
4
Tarif BOP ditentukan didepan berdasarkan biaya yang dianggarkan atau tingkatan aktivitas yang diharapkan
Tarif alokasi biaya didasarkan pada tingkat aktivitas sesungguhnya, bukan aktivitas yang dianggarkan ataupun diharapkan.

E.     Tahap Menerapkan ABC
1.      Mengidentifikasi dan menentukan aktivitas untuk menjual barang tertentu dan menentukan kelompok-kelompok aktivitsas. Misalnya aktivitas produksi, dikelompokkan menjadi kelompok biaya tembahan gaji tenaga kerja langsung, kelompok biaya produksi karena berlalunya waktu, kelompok biaya produksi yang dibebankan berdasarkan cash Basis. Aktivitas pemasaran, dikelompokkan menjadi kelompok biaya gaji, kelompok biaya pengiriman, kelompok biaya iklan.
2.      Jika memungkinkan menulusuri semua biaya BOP, biaya administrasi, dan biaya pemasaran ke barang tertentu, jika tidak mungkin ke barang tertentu, maka kelompok aktivitas tertentu.  Gaji mandor, total Rp. 160.000, dimana Rp 100.000 khusus terjadi akibat mengerjakan pesanan jaket.
3.      Menghitung tarif alokasi untuk setiap kelompok biaya, jika memungkinkan berdasarkan cost driver (ukuran aktivitas penyebab munculnya biaya) untuk setiap biaya.
4.      Membebankan dan mengalokasikan biaya yang tidak dapat ditelusuri (BOP, administrasi, pemasaran), ke semua barang yang diproduksi dengan menggunakan tarif yang telah dihitung.
5.      Menyusun laporan biaya sistem ABC.

F.      Manfaat ABC
Manfaat yang dihasilkan oleh perusahaan yang menerapkan ABC adalah :
a.       Memperbaiki mutu pengambilan keputusan.
Kemampuan ABC menghasilkan informasi biaya produksi yang lebih teliti dapat mengurangi kemungkinan manajemen melakukan pengambilan keputusan yang salah. Informasi biaya produksi yang lebih teliti sangat penting bagi manajemen jika perusahaan menghadapi persaingan yang sangat tajam.
b.      Memungkinkan manajemen melakukan perbaikan terus menerus terhadap kegiatan untuk mengurangi biaya overhead.
ABC mengidentifikasi biaya overhead dengan kegiatan yang menimbulkan biaya tersebut. Dengan demikian informasi biaya yang dihasilkan oleh ABC dapat digunakan oleh manajemen untuk memantau secara terus menerus berbagai kegiatan yang digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk dan melayani konsumen. Perbaikan berbagai kegiatan untuk menghasilkan produk dan penghilangan kegiatan yang tidak bernilai tambah bagi konsumen dapat dipertimbangkan oleh manajemen berdasarkan informasi biaya yang disajikan dengan ABC
c.       Memberikan kemudahan dalam penentuan biaya relevan.
ABC menyediakan informasi biaya yang dihubungkan dengan berbagai kegiatan untuk menghasilkan produk, sehingga manajemen akan memperoleh kemudahan dalam mendapatkan infomasi yang relevan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut berbagai kegiatan bisnis mereka. Jika misalnya menajemen mempertimbangkan untuk melakukan perbaikan dalam kegiatan set-up fasilitas produksi, ABC mampu dengan cepat menyediakan informasi batch related activities cost sehingga memungkikan manajemen mempertimbangkan akibat keputusan mereka terhadap konsumsi sumber daya untuk kegiatan tersebut.
G.    Tujuan dan Peranan ABC
Tujuan ABC digunakan untuk meningkatkan akurasi analisi biaya dengan memperbaiki cara penulusuran biaya ke objek biaya. ABC digunakan juga untuk berbagai objek biaya yang berbeda yaitu produk secara individual, kelompok prodeuk yang saling berhubungan dan pelanggan secara individual.
Abc juga sangat membantu perusahaan untuk dapat mengurangi distorsi yang disebabkan oleh sistem penentuan harga produk tradisional dan mendapatkan biaya produk yang lebih akurat. ABC juga menyediakan pandangan yang jelas tentang bagaimana perusahaan membedakan produk, jasa, dan aktivitas yang memberi kontribusi dalam jangka panjang.
Menurut Kamaruddin Ahmad mengatakan bahwa peranan dari sistem ABC :
1.      Pembebanan biaya tidak langsung dan biaya pendukung.
2.      Pembebanan biaya dan alokasi biaya : biaya langsung dan tak langsung.
Berdasarkan kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa pembebanan biaya merupakan suatu proses pembebanan biaya ke dalam cost poll atau dari cost poll ke objek biaya. Biaya yang langsung dapat ditelusuri secara langsung ke biaya atau objek biaya secara mudah dapat dihubungkan secara ekonomi. Biaya yang tidak langsung tidak dapat ditelusuri secara mudah, dan bahkan sulit untuk dihubungkan secara ekonomi dari biaya atau cost poll ke cost poll atau objek biaya.
H.    Keunggulan Activity Based Costing
1.      Suatu pengkajian ABC dapat meyakinkan manajemen bahwa mereka harus mengambil sejumlah langkah untuk menjadi lebih kompetitif. Sebagai hasilnya mereka dapat berusaha untuk meningkatkan mutu sambil secara simultan memfokus mengurangi biaya. Analisis biaya dapat menyoroti bagaimana benar-benar mahalnya biaya manufacturing, yang pada akhirnya dapat memicu aktivitas untuk mereorganisasi proses memperbaiki mutu dan mengurangi biaya.
2.      ABC dapat membantu dalam pengambilan keputusan.
3.      Manajemen akan berada dalam suatu posisi untuk melakukan penawaran kompetitif yang lebih wajar.
4.      Dengan analaisis biaya yang diperbaiki, manajemen dapat melakukan analaisis yang lebih akurat mengenai volume yang dilakukan untuk mencari breakevent atas produk yang bervolume rendah.
5.      Melalui analisis data biaya dan pola konsumsi sumber daya, manajemen dapat mulai merekayasa kembali proses manufcturing untuk mencapai pola keluaran mutu yang lebih efisien dan lebih tinggi.
I.       Kelemahan Acitivity Based Costing
1.      Alokasi, beberapa biaya yang dialokasikan secara sembarangan, karena sulitnya menemukan aktivitas biaya tersebut. Contoh : pembersihan pabrik dan pengelolaan proses produksi.
2.      Mengabaikan biaya, biaya tertentu yang diabaikan dari analisis. Contoh : iklan, riset, dan sebagainya.
3.      Pengeluaran dan waktu yang dikonsumsi, disamping memerlukan biaya yang mahal juga.
Berdasarkan kutipan diatas, dapat disimpulkan bahwa  ABC memiliki kelemahan yaitu pengalokasian biaya yang secara sembarangan, pengabaiyan biaya, dan memerlukan biaya yang mahal dan juga waktu yang cukup lama.



J.      Pengertian ABM.
Activity Based Managenent (ABM) merupakan suatu konsep yang mengerahkan perhatian pada konsumsi sumber daya terhadap aktivitas yang dilakukan oleh suatu perusahaan, sehingga untuk dapat mengetahui bagaimana suatu perusahaan menggunakan sumber dayanya, maka terlebih dahulu haruslah dipahami mengenai aktivitas-aktivtas apa sajakah yang telah terjadi didalam perusahaan tersebut. Aktivitas-aktivitas tersebut merupakan aktivitas yang telah mengkonsumsi sumber daya melalui pengidentifikasian pemicu biayanya dimana biaya-biaya ini timbul karena dilaksanakannya aktivitas-aktivitas tersebut.
Pengertian dan pemahaman yang baik mengenai berbagai aktivitas yang telah dilaksanakan akan dapat memberikan pandangan yang baik tentang bagaimana menggunakan, mengelola, dan mengendalikan sumber daya perusahaan, dan dapat pula digunakan untuk mengetahui peluang  yang ada untuk meningkatkan kinerja perusahaan serta memberi pedoman yang baik untuk menilai kinerja tersebut dalam rangka untuk mendukung perbaikan berkesinambungan.
Activity Based Management merupakan pendekatan yang terintegrasi yang memfokuskan perhatian manajemen pada aktivitas yang bertujuan untuk meningkatkan nilai yang diterima oleh pelanggan dan meningkatkan laba perusahaan melalau penyediaan nilai pelanggan tersebut dengan menggunakan informasi yang diperoleh dari Activity Based System, dimana antara ABM dan ABC saling berkaitan satu sama lain.
K.     Dimensi Activity Based Management
Manajemen berdasarkan aktivitas memiliki dua dimensi yaitu sebagai berikut :
a.       Dimensi biaya (cost dimension)
memberikan informasi biaya mengenai sumberdaya, aktivitas, produk dan pelanggan (serta biaya-biaya lain yang diperlukan), dimana biaya-biaya sumber daya dapat ditelusuri ke aktivitas-aktivitas dan kemudian di aktivitas tersebut dibebankan ke pelanggan. Dengan demikian, dimensi ini merefleksikan kebutuhan untuk membagi sumber daya biaya terhadap aktivitas dan biaya aktivitas terhadap objek biaya seperti pelanggan dan produk agar dapat menganalisis keputusan critical. Keputusan tersebut termasuk penetapan harga, pengadaan produk dan penetapan prioritas untuk usaha perbaikan.


b.      Dimensi Proses (process dimension)
Memberikan informasi mengenai aktivitas apa saja yang dilaksanakan, mengapa aktivitas tersebut dilaksanakan dan seberapa baik pelaksanaannya. Dimensi ini menjelaskan mengenai akuntansi pertanggungjawaban berdasarkan aktivitas dan lebih memfokuskan pertanggung jawaban aktivitas bukan pada biaya, dan menekankan pada maksimalisasi kinerja sistem secara menyeluruh bukan pada kinerja secara individu. Dengan demikian dimensi ini merefleksikan kebutuhan untuk suatu kategori informasi yang baru mengenai kinerja aktivitas. Informasi ini menunjukkan apa yang menyebabkan pemicu biaya dan bagaimana pengukuran kinerjanya.
L.     Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan penerapan Activity Based Management
Adapun faktor-faktornya yakni :
1.      Budaya organisasi
Mencerminkan kerangka berfikir dari karyawan termasuk perilaku, nilai, keyakinan yang dianut karyawan. Budaya organisasi menunjukkan keterlibatan, kerja sama, serta partisipasi yang tinggi dari seluruh karyawan. Budaya organisasi sangatlah mendukung keberhasilan dari penerapan ABM di suatu organisasi.
2.      Top Management Support and Commitment
Penerapan suatu sitem manajemen biaya yang baru seperti ABM dan ABC membutuhkan waktu dan sumber daya, oleh karena itu dukungan dan peran serta top manajer sangatlah diperlukan untuk keberhasilan penerapannya
3.      Change Process
Perubahan bisa terjadi apabila diterapkannya suatu proses yang sudah dirancang menghasilkan perubahan tersebut. Perbaikan dari proses yang sudah ada sangatlah mendukung keberhasilan penerapannya. Elemen-elemen dari proses diantaranya daftar dari aktivitas, sekumpulan tujuan, dan tingkatan lanjutan.
4.      Continuing Education
Memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengikuti pelatihan serta meningkatkan keahlian mereka terhadap lingkungan kerja yang cepat sangatlah penting. Keberhasilan penerapan dari program manajemen biaya yang baru membutuhkan keahlian, peran serta dan kerjasama dari karyawan suatu organisasi.
M.   ABM operasional dan ABM strategis
Cooper dan Kaplan mengelompokkan penerapan ABM kedalam 2 kategori :
1.      ABM Operasional
ABM operasional meningkatkan efisiensi koperasi dan tingkat penggunaan aset serta menurunkan biaya fokusnya adalah melakukan sesuatu dengan benar dan melakukan aktivitas dengan lebih efisien. Penerapan ABM operasional menggunakan teknik manajemen seperti aktivitas manajemen, proses rekayasa ulang bisnis, manajemen mutu total dan pengukuran kinerja.
2.      ABM Strategis berusaha meningkatkan permintaan akan aktivitas dan profitabilitas pada efisiensi aktivitas saat ini atau efisiensi yang telah ditingkatkan. ABM strategis berfokus pada pemilihan aktivitas yang tepat untuk operasi. Dengan menggunakan ABM Strategis, perusahaan meningkatkan profitabilitas melalui pengurangan aktivitas yang tidak menunguntungkan, penghilangan aktivitas yang tidak penting dan pemilihan pelanggan yang paling menguntungkan. Penerapa ABM strategis menggunakan teknik manajemen seperti perancangan proses, bauran dini produk pelanggan, hubungan dengan pemasok, hubungan dengan pelanggan (penetapan harga, ukuran pesanan, pengiriman, pengamasan, dsb), segmentasi pasar dan saluran distribusi.














Rabu, 02 Maret 2016

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI MELIPUTI : SISTEM JUST-IN TIME(JIT)



PERKEMBANGAN TEKNOLOGI MELIPUTI : SISTEM JUST-IN TIME(JIT)

A.    Sejarah Just In Time
Just in Time dikembangkan oleh Toyota Motor Corporation tahun 1973. Tujuan utamanya adalah pengurangan biaya atau perbaikan produktivitas dengan menghilangkan berbagai pemborosan. Pengembangan yang sangat penting dalam perencanaan dan pengendalian operasional saat ini adalah JIT manufacturing yang kadang disebut sebagai”produk tanpa persedian”. JIT bukan hanya sekedar sebuah metode yang bertujuan untuk mengurangi persediaan. JIT juga memperhatikan keseluruhan system produksi sehingga komponen yang bebas dari cacat dapat disediakan untuk tingkat produksi selanjutnya tepat ketika mereka dibutuhkan – tidak terlambat dan tidak terlalu cepat.

B.     Pengertian Just In Time (JIT)
Sistem produksi tepat waktu (Just In Time) adalah sistem produksi atau sistem manajemen fabrikasi modern yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan Jepang yang pada prinsipnya hanya memproduksi jenis-jenis barang yang diminta sejumlah yang diperlukan dan pada saat dibutuhkan oleh konsumen.
JIT mempunyai empat  aspek pokok sebagai berikut:
1.      Produksi Just In Time (JIT), adalah memproduksi apa yang dibutuhkan hanya pada saat dibutuhkan dan dalam jumlah yang diperlukan.
2.      Autonomasi merupakan suatu unit pengendalian cacat secara otomatis yang tidak memungkinkan unit cacat mengalir ke proses berikutnya.
3.      Tenaga kerja fleksibel, maksudnya adalah mengubah-ubah jumlah pekerja sesuai dengan fluktuasi permintaan.
4.      Berpikir kreatif dan menampung saran-saran karyawan
Tujuan utama yang ingin dicapai dari sistem JIT adalah:
1. Zero Defect (tidak ada barang yang rusak)
2. Zero Set-up Time (tidak ada waktu set-up)
3. Zero Lot Excesses (tidak ada kelebihan lot)
4. Zero Handling (tidak ada penanganan)
5. Zero Queues (tidak ada antrian)
6. Zero Breakdowns (tidak ada kerusakan mesin)
7. Zero Lead Time (tidak ada lead time)
Untuk mencapai tujuan tersebut, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penerapan Just In Time,diantaranya adalah sebagai berikut :
·         Aliran Material yang lancar – Sederhanakan pola aliran material. Untuk itu dibutuhkan pengaturan total pada lini produksi. Ini juga membutuhkan akses langsung dengan dan dari bagian penerimaan dan pengiriman. Tujuannya adalah untuk mendapatkan aliran material yang tidak terputus dari bagian penerimaan dan kemudian antar tiap tingkat produksi yang saling berhubungan secara langsung, samapi pada bagian pengiriman. Apapun yang menghalangi aliran yang merupakan target yang haru diselidiki dan dieliminasi.
·         Pengurangan waktu set-up – Sesuai dengan JIT, terdapat beberapa bagian produksi diskret yang memilki waktu set-up mesin yang kadang-kadang membutuhkan waktu beberapa jam. Hal ini tidak dapat ditoleransi dalam sistem JIT. Pengurangan waktu setup yang dramatis telah dapat dicapai oleh berbagai perusahaan, kadang dari 4-7 jam menjadi 3-7 menit. Ini membuat ukuran batch dapat dikurangi menjadi jumlah yang sangta kecil, yang mengijinkan perusahaan menjadi sangat fleksibel dan responsif dalam menghadapi perubahan permintaan konsumen.
·         Pengurangan lead time vendor – Sebagai pengganti dari pengiriman yang sangat besar dari komponen-komponen yang harus dibeli setiap 2/3 bulan, dengan sistem JIT kita ingin menerima komponen tepat pada saat operasi produksi membutuhkan. Untuk itu perusahaan kadang-kadang harus membuat kontrak jangka panjang dengan vendor untuk mendapatkan kondisi seperti ini.
·         Komponen zero defect – Sistem JIT tidak dapat mentolelir komponen yang cacat, baik itu yang diproduksi maupun yang dibeli. Untuk komponen yang diproduksi, teknis kontrol statistik harus digunakan untuk menjamin bahwa semua proses sedang memproses komponen dalam toleransi setiap waktu. Untuk komponen yang dibeli, vendor diminta untuk menjamin bahwa semua produk yang mereka sediakan telah diproduksi dalam sistem produksi yang diawasi secara satistik. Perusahaan kan selalu memiliki program sertifikasi vendor untuk menjamin terlaksananya hal ini.
·         Kontrol lantai produksi yang disiplin – Dalam system pengawasan lantai produksi tradisional, penekanan diberikan pada utilitas mesin, waktu produksi yang panjang yang dapat mengurangi biaya set up dan juga pengurangan waktu pekerja. Untuk itu, order produksi dikeluarkan dengan memperhatikan faktorfaktor ini. Dalam JIT, perhitungan performansi tradisional ini sangat jauh dari keinginan untuk membentuk persediaan yang rendah dan menghilangkan halhal yang menghalangi operasi yang responsif. Hal ini membuat waktu awal pelepasan order yang tepat harus dilakukan setiap saat. Ini juga berarti, kadangkadang mesin dan operator mesin dapat saja menganggur. Banyak manajer produksi yang telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menjaga agar mesin dan tenaga kerja tetap sibuk, mendapat kesulitan membuat penyesuaian-penyesuaian yang dibutuhkan agar berhasil menggunakan operasi JIT. Perusahaan yang telah berhasil mengimplementasikan filosofi JIT akan mendapatkan manfaat yang besar.

C.     Elemen-elemen Just In Time
·         Pengurangan waktu set up
·         Aliran produksi lancar (layout)
·         Produksi tanpa kerusakan mesin
·         Produksi tanpa cacat
·         Peranan operator
·         Hubungan yang harmonis dengan pemasok
·         Penjadwalan produksi stabil dan terkendali
·         Sistem kanban 
Pengurangan waktu set up dan ukuran lot
a. Pemilihan kegiatan set up
    Kegiatan set up bisa dipilih menjadi :
1.      Kegiatan eksternal set up: Persiapan cetakan dan alat bantu, pemindahan cetakan dll.
2.      Kegiatan internal set up: Bongkar pasang pada mesin, penyetelan mesin dll.

b. Langkah mengurangi waktu set up:
1.      Memisahkan pekerjaan set up yang harus diselesaikan selagi mesin berhenti (internal set up) terhadap pekerjaan yang dapat dikerjakan selagi mesin beroprasi (eksternal set up).
2.      Mengurangi internal set up dengan mengerjakan lebih banyak eksternal set up, contohnya: Persiapan cetakan, pemindahan cetakan, peralatan dll.
3.      Mengurangi internal set up dengan mengurangi kegiatan penyesuaian (adjustment), menyederhanakan alat bantu dan kegiatan bongkar pasang, menambah personil pembantu dll.
4.      Mengurangi total waktu untuk seluruh pekerjaan set up, baik internal maupun eksternal.
Contoh:
·         Jika set up mesin lamanya 1 jam (60 menit), bisa disingkat menjadi 6 menit. Andaikata lot yang harus dibuat banyaknya 3000 buah yang setiap unitnya memakan waktu 1 menit, maka waktu produksinya =1 jam + (3000 x 1 menit)= 3060 menit= 51 jam.
·         Setelan waktu set up dikurangi menjadi 6 menit, maka waktu produksinya menjadi= 6 menit + (3000 x 1 menit)= 3006 menit.
·         Namun, dengan waktu yang sama (3060 menit) dapat dibuat lot sebanyak 300 buah dari berbagai jenis yang diulang  sebanyak 10 kali, yaitu: (6 menit + (300 x 1 menit) x 10= 3060 menit= 51 jam.
·         Hal ini berarti sistem produksi lebih tanggap terhadap perubahan. 

Aliran produksi lancar (layout)
a. Pemborosan yang berkaitan dengan proses Layout
    Pada layout proses ditemukan berbagai pemborosan, yaitu:
1.      Kesulitan koordinasi dan jadwal produksi
2.      Pemborosan transportasi dan material handling 
3.      Akumulasi persediaan dalam proses
4.      Penanganan material berganda bahkan beberapa kali
5.      Lead time produksi yang sangat panjang 
6.      Kesulitan mengenali penyebab cacat produksi
7.      Arus material dan prosedur kerja sulit dibakukan 
8.      Sulitnya perbaikan kerja karena tidak ada standardisasi
b. Menuju ke Product Layout
c. Aliran produksi
·         Proses layout. Waktu simpan komponen lama, tingkat persediaan tinggi dan prioritas kerja sulit ditentukan.
·         Ketidakseimbangan jalur. Jika proses tidak terkoordinir maka komponen akan terakumulasi sebagai persediaan dan pengaturan kerja akan sulit dilakukan 
·         Set up/ penggantian alat yang makan waktu. Persediaan komponen akan menumpuk, sementara proses berikutnya akan tertunda
·         Kerusakan dan gangguan mesin. Jalur akan berhenti dan akan terjadi penumpukan barang dalam proses
·         Masalah kualitas. Kalau cacat produksi ditemukan, maka proses selanjutnya akan berhenti dan persediaan akan menumpuk
·         Absensi. Jika seorang operator ada yang berhalangan kerja dan penggantinya sulit ditemukan, maka jalur produksi akan terhenti.
Produksi tanpa kerusakan mesin
a. Preventive Maintenance
1.      Pendekatan untuk mencegah kerusakan dan gangguan mesin 
2.      Faktor penyebab gangguan mesin
3.      Gangguan mesin dan penanggulannya
b. Total Productive Maintenance
1.      Belajar bagaimana melakukan pemeliharaan rutin mesin, misalnya: Pelumasan, pengencangan baut dan sebagainya. Guna mencegah penurunan daya kerja mesin
2.      Melaksanakan petunjuk penggunaan mesin secara wajar
3.      Mengembangkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap tanda-tanda awal penurunan kemampuan mesin, dengan melakukan perawatan yang mudah, pembersihan, penyetelan dll
Sementara karyawan bagian pemeliharaan, bisa melakukan antara lain:
1.      Membantu operator produksi mempelajari kegiatan perawatan yang dapat dilakukan sendiri
2.      Memperbaiki penurunan kemampuan peralatan melalui inspeksi berkala, bongkar pasang dan penyesuaian/penyetelan kembali
3.      Menentukan kelemahan dalam rancang bangun mesin, merencanakan dan melakukan tindakan perbaikan, menentukan kondisi wajar operasi mesin
4.      Membantu operator menaikkan kemampuan perawatan dll
D.    Penerapan JIT dalam berbagai bidang fungsional perusahaan
a.      Pembelian JIT
           Pembelian JIT adalah sistem penjadwalan pengadaan barang dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat dilakukan penyerahan segera untuk memenuhi permintaan atau penggunaan.
Pembelian JIT dapat mengurangi waktu dan biaya yang berhubungan dengan aktivitas pembelian dengan cara:
1.      Mengurangi jumlah pemasok sehingga perusahaan dapat mengurangi sumber-sumber yang dicurahkan dalam negosiasi dengan pamasoknya.
2.      Mengurangi atau mengeliminasi waktu dan biaya negosiasi dengan pemasok.
3.      Memiliki pembeli atau pelanggan dengan program pembelian yang mapan.
4.      Mengeliminasi atau mengurangi kegiatan dan biaya yang tidak bernilai tambah.
5.      Mengurangi waktu dan biaya untuk program-program pemeriksaan mutu.

           Penerapan pembelian JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi biaya dan manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut:
1.      Ketertelusuran langsung sejumlah biaya dapat ditingkatkan.
2.      Perubahan “cost pools” yang digunakan untuk mengumpulkan biaya.
3.      Mengubah dasar yang digunakan untuk mengalokasikan biaya sehingga banyak biaya tidak langsung dapat diubah menjadi biaya langsung.
4.      Mengurangi perhitungan dan penyajian informasi mengenai selisih harga beli secara individual
5.      Mengurangi biaya administrasi penyelenggaraan sistem akuntansi








Traditional Purchasing
Uraian
JIT Purchasing
Pengiriman dalam jumlah besar dan digunakan untuk beberapa minggu, frekuensi pengiriman teratur, dan pengiriman dilakukan berdasarkan tanggal diinginkan pembeli.




Pengiriman
Pengiriman dalam jumlah kecil untuk memenuhi kebutuhan permintaan produksi, frekuensi pengiriman lebih sering, dan pengiriman disesuaikan jadwal produksi atau permintaan pembeli.            

Beberapa pemasok untuk setiap bagian.
Jumlah
Pemasok
Sedikit pemasok untuk setiap bagian, terkadang pemasok tunggal.
Pengadaan  persediaan digunakan untuk mempertahankan kualitas yang diinginkan dan berjaga-jaga,
Persediaan diadakan beberapa waktu untuk menjamin kelancaran produksi.



Persediaan
Persediaan dalam jumlah kecil karena diharapkan pengiriman lebih sering, tepat waktu, dan berkualitas tinggi, Persediaan dikurangi karena dinilai mengakibatkan sumber daya yang menganggur dan biaya meningkat.
Persetujuan pembelian jangka pendek, menekankan pemasok dengan ancaman menarik kembali persetujuan yang ada.

Persetujuan
Pembelian
Persetujuan pembelian jangka panjang, menekankan pemasok melalui kewajiban untuk menyediakan barang dalam hubungan kerjasama yang baik.
Produk dirancang dengan berbagai pertimbangan atas jumlah komponen atau bahan yang dibeli dan digunakan.

Produk
Produk dirancang dengan usaha keras untuk menggunakan semua bahan yang dibeli saat itu, tanpa bahan sisa.
Pertukaran informasi antara pemasok dengan pembeli minimum.

Informasi
Pertukaran informasi antara pemasok dengan perusahaan lebih luas dengan mengikuti jadwal produksi.
Harga ditentukan pemasok.

Harga
Pembeli bekerjasama dengan pemasok untuk mengurangi biaya pemasok dan pada akhirnya mengurangi harga.
Kedekatan letak geografis pemasok tidak dipertimbangkan dalam pemilihan pemasok.

Lokasi
Kedekatan letak geografis dipertimbangkan sebagai hal yang penting dalam pemilihan pemasok.


b. Produksi JIT

           Produksi JIT adalah sistem penjadwalan produksi komponen atau produk yang tepat waktu, mutu, dan jumlahnya sesuai dengan yang diperlukan oleh tahap produksi berikutnya atau sesuai dengan memenuhi permintaan pelanggan.
Produksi JIT dapat mengurangi waktu dan biaya produksi dengan cara:
1.      Mengurangi atau meniadakan barang dalam proses dalam setiap workstation (stasiun kerja) atau tahapan pengolahan produk (konsep persediaan nol).
2.      Mengurangi atau meniadakan “Lead Time” (waktu tunggu) produksi (konsep waktu tunggu nol).
3.      Secara berkesinambungan berusaha sekeras-kerasnya untuk mengurangi biaya setup mesin-mesin pada setiap tahapan pengolahan produk (workstation).
4.      Menekankan pada penyederhanaan pengolahan produk sehingga aktivitas produksi yang tidak bernilai tambah dapat dieliminasi.

           Perusahaan yang menggunakan produksi JIT dapat meningkatkan efisiensi dalam bidang:
1.      Lead time (waktu tunggu) pemanufakturan
2.      Persediaan bahan, barang dalam proses, dan produk selesai
3.      Waktu perpindahan
4.      Tenaga kerja langsung dan tidak langsung
5.      Ruangan pabrik
6.      Biaya mutu
7.      Pembelian bahan

           Penerapan produksi JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi biaya dan manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut:
1.      Ketertelusuran langsung sejumlah biaya dapat ditingkatkan
2.      Mengeliminasi atau mengurangi kelompok biaya (cost pools) untuk aktivitas tidak langsung
3.      Mengurangi frekuensi perhitungan dan pelaporan informasi selisih biaya tenaga kerja dan overhead pabrik secara individual
4.      Mengurangi keterincian informasi yang dicatat dalam “work tickets”
Pull system
Uraian

 Push system
“a JIT consept that results in material being produced only when requested and moved to where it is needed just as it is need”;
artinya sistem tarik adalah konsep Just In Time yang melakukan produksi unit atau barang hanya pada saat dibutuhkan dan untuk dipindahkan ke tempat atau proses yang membutuhkan secara tepat waktu.





Konsep
“A system that pushes material into downstream workstation regardless of their timeliness or availability or resources to perform the work”;
adalah sistem yang mendorong bahan baku ke proses berikutnya tanpa mempertimbangkan waktu atau kemampuan kapasitas proses berikutnya untuk melakukan pekerjaan tersebut.
Proses berikutnya mengambil atau menarik suku cadang atau komponen dari proses terdahulu, proses terdahulu memproduksi suku cadang yang  telah diambil proses berikutnya.


Cara kerja
Proses terdahulu memasok suku cadang atau komponen untuk didistribusikan ke proses berikutnya, produksi terus dilakukan sesuai jumlah dan jadwal produksi serentak.
Mudah menyesuaikan diri karena tidak diperlukan jadwal produksi secara serentak untuk semua proses.

Adaptasi
Sulit menyesuaikan diri secara cepat bila ada perubahan fluktuasi permintaan dan bila ada gangguan pada proses.
Adanya perubahan jadwal produksi hanya perlu diketahui lini terakhir atau proses produksi terakhir.

Jadwal
Produksi
Adanya perubahan jadwal produksi yang sering dilakukan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan permintaan.
Perusahaan tidak perlu menimbun persediaan, karena kuantitas produk  yang dihasilkan sejumlah kuantitas yang dibutuhkan pada saat dibutuhkan, menciptakan keseimbangan antar proses. Kekurangan persediaan diatasi dengan eliminasi  kerusakan sampai nol (zero defects).



Persediaan
Perusahaan harus menimbun persediaan diantara semua proses, menciptakan ketidakseimbangan antar proses yang sering mengakibatkan kelebihan produksi, persediaan yang tidak terpakai, kelebihan perlengkapan, dan surplus pekerja.




























E.     Pemanufakturan JIT dan Penentuan Biaya Produk
Pemanufakturan JIT menggunakan pendekatan yang lebih memusat daripada yang ditemui dalam pemanufakturan tradisional.Penggunaan sistem pemanufakturan JIT mempunyai dampak pada:
·         Meningkatkan Keterlacakan (Ketertelusuran) biaya.
·         Meningkatkan akurasi penghitungan biaya produk.
·         Mengurangi perlunya alokasi pusat biaya jasa (departemen jasa)
·         Mengubah perilaku dan relatif pentingnya biaya tenaga kerja langsung.
·         Mempengaruhi sistem penentuan harga pokok pesanan dan proses.
·          
           Dasar-dasar pemanufakturan JIT dan perbedaannya dengan pemanufakturan tradisional:
1.      JIT Dibandingkan dengan Pemanufakturan Tradisional.

           Pemanufakturan JIT adalah sistem tarikan permintaan (Demand-Pull). Tujuan pemanufakturan JIT adalah memproduksi produk hanya jika produk tersebut dibutuhkan dan hanya sebesar jumlah permintaan pembeli (pelanggan). Beberapa perbedaan pemanufakturan JIT dengan Tradisional meliputi:
a.  Persediaan Rendah
b.  Sel-sel Pemanufakturan dan Tenaga Kerja Interdisipliner
c.       Filosofi TQC (Total Quality Control)

2.      JIT dan Ketertelusuran Biaya Overhead
Dalam lingkungan JIT, beberapa aktivitas overhead yang tadinya digunakan bersama untuk lebih dari satu lini produk sekarang dapat ditelusuri secara langsung ke satu produk tunggal. Manufaktur yang berbentuk sel-sel, tanaga kerja yang terinterdisipliner, dan aktivitas jasa yang terdesentralisasi adalah karakteristik utama JIT.



3.      Keakuratan Penentuan Biaya Produk dan JIT
Salah satu konsekuensi dari penurunan biaya tidak langsung dan kenaikan biaya langsung adalah meningkatkan keakuratan penentuan biaya (Harga Pokok Produk).
Pemanufakturan JIT, dengan mengurangi kelompok biaya tidak langsung dan mengubah sebagian besar dari biaya tersebut menjadi biaya langsung maupun sebaliknya, dapat menurunkan kebutuhan penaksiran yang sulit.

4.      JIT dan Alokasi Biaya Pusat Jasa
Dalam manufaktur tradisional, sentralisasi pusat-pusat jasa memberikan dukungan pada berbagai departemen produksi. Dalam lingkungan JIT, banyak jasa didesentralisasikan.Hal ini dicapai dengan membebankan pekerja dengan keahlian khusus secara langsung ke lini produk dan melatih tenaga kerja langsung yang ada dalam sel-sel untuk melaksanakan aktivitas jasa yang semula dilakukan oleh tenaga kerja tidak langsung.

5.      Pengaruh JIT pada Biaya Tenaga Kerja Langsung
Sebagai perusahaan yang menerapkan JIT dan otomatisasi, biaya tenaga kerja langsung tradisional dikurangi secara signifikan.Oleh sebab itu ada dua akibat:
1.  Persentasi biaya tenaga kerja langsung dibandingkan total biaya produksi menjadi berkurang
2.  Biaya tenaga kerja langsung berubah dari biaya variabel menjadi biaya tetap.

6.      Pengaruh JIT pada Penilaian  Persediaan
Salah satu masalah pertama akuntansi yang dapat dihilangkan dengan penggunaan pemanufakturan JIT adalah kebutuhan untuk menentukan biaya produk dalam rangka penilaian persediaan. Jika terdapat persediaan, maka persediaan tersebut harus dinilai, dan penilaiannya mengikuti aturan-aturan tertentu untuk tujuan pelaporan keuangan. Dalam JIT diusahakan  persediaan nol (atau paling tidak pada tingkat yang tidak signifikan), sehingga penilaian persediaan menjadi tidak relevan untuk tujuan pelaporan keuangan.Dalam JIT, keberadaan penentuan harga pokok produk hanya untuk memuaskan tujuan manajerial. Manajer memerlukan informasi biaya produk yang akurat untuk membuat berbagai keputusan misalnya:
(a) penetapan harga jual berdasar cost-plus,
(b) analisis trend biaya,
(c) analisis profitabilitas lini produk,
(d) perbandingan dengan biaya para pesaing,
(e) keputusan membeli atau membuat sendiri,

7.      Pengaruh JIT pada Harga Pokok Pesanan
Dalam penerapan JIT untuk penentuan order pesanan, pertama, perusahaan harus memisahkan bisnis yang sifatnya berulang-ulang dari pesanan khusus.Selanjutnya, sel-sel pemanufakturan dapat dibentuk untuk bisnis berulang-ulang.
           Dengan mereorganisasi tata letak pemanufakturan, pesanan tidak membutuhkan perhatian yang besar dalam mengelompokkan harga pokok produksi. Hal ini karena biaya dapat dikelompokkan pada level selular. lagi pula, karena  ukuran lot sekarang lebih sangat kecil,maka tidak praktis untuk menyusun kartu harga pokok pesanan untuk setiap pesanan. Maka lingkungan pesanan akan menggunakan sifat sistem harga pokok proses.

8.      Penentuan Harga Pokok Proses dan JIT
Dalam metode  proses, perhitungan biaya per unit akan menjadi lebih rumit karena adanya persediaan barang dalam proses. Dengan menggunakan JIT, diusahakan persediaan nol, sehingga penghitungan unit ekuivalen tidak terlalu dibutuhkan, dan tidak perlu menghitung biaya dari periode sebelumnya. JIT secara signifikan mengarah pada penyederhanaan.

9.      JIT dan Otomasi                    
Sejak sistem JIT digunakan, biasanya hanya menunjukkan kemungkinan otomasi dalam beberapa hal. Karena tidaklah umum bagi perusahaan yang menggunakan JIT untuk mengikutinya  dengan  pemilikan  teknologi pemenufakturan maju. Otomasi perusahaan untuk :
(a) menaikkan kapasitas produksi,
(b) menaikkan efisiensi,
(c) meningkatkan mutu dan pelayanan,
(d) menurukan waktu pengolahan,
(e) meningkatkan keluaran.

            Otomasi meningkatkan kemampuan untuk menelusuri biaya pada berbagai produk secara individual. sebagai contoh sel-sel FMS, merupakan rekan terotomasi dari sel-sel pemanufakturan JIT. Jadi. beberapa biaya yang merupakan biaya yang tidak langsung dalam lingkungan tradisional sekarang menjadi biaya langsung.

10.  Penentuan Harga Pokok Backflush
Penentuan harga pokok backflush mengeliminasi rekening barang dalam proses dan membebankan biaya produksi secara langsung pada produk selesai. Perusahaan menggunakan backflush costing jika terdapat kondisi-kondisi sebagai berikut :
1.      Manajemen ingin sistem akuntansi yang sederhana.
2.      Setiap produk ditentukan biaya standarnya.
3.      Metode ini menghasilkan penentuan harga pokok produk yang kira-kira mengasilkan informasi keuangan yang sama dengan penelusuran secara berurutan.
Ada dua perubahan relatif pada sistem konvensional yaitu :
1.      Perubahan Akuntansi Bahan
2.      Perubahan Akuntansi Biaya Konversi

F.     SISTEM KANBAN
1.      Pengertian Sistem Kanban
Sistem Kanban adalah suatu sistem informasi yang secara serasi mengendalikan jumlah produksi dalam setiap proses.
2.  Jenis Kanban
Terdapat tiga jenis Kanban yang sering digunakan, yakni:
a.       Kanban pengambilan (a withdrawal kanban)
b.      Kanban perintah-produksi atau Kanban produksi (a production kanban)
c.       Kanban pemasok .

G.    EFISIENSI
1.      Pengertian efisiensi
Pengertian Efisiensi menurut Stephen & Mary dalam “Management” dinyatakan sebagai berikut :
“Eficiency is getting the most output from the least amount of inputs referred to doing things right”.
2.  Pengukuran efisiensi
Menurut Blocher et al., efisiensi dapat diukur dari Throughput Time :
                                        JIT                       TQC                     Cellular            JIT Zero
                                 Manufacturing     Zero defects         manufacturing       Inventory

Throughput Time = Processing    +       Inspection     +       Moving     +       Storage
Time                    Time                     Time                 Time
 

                      
                           Value added time                       Non value added time
Keterangan :
a.       Throughput Time adalah keseluruhan interval waktu untuk mengolah atau mengkonversikan bahan baku menjadi produk jadi.  
b.      Processing Time adalah waktu yang dibutuhkan untuk memproses atau memproduksi suatu produk dalam proses produksi.
c.       Inspection Time adalah waktu yang diperlukan untuk melakukan inspeksi atau pemeriksaan terhadap bahan baku.
d.      Moving Time adalah waktu yang dikonsumsi saat produk dipindahkan dari satu departemen ke departemen lain.
e.       Storage Time adalah waktu untuk menyimpan bahan baku, produk dalam proses dan produk jadi.
Berdasarkan  Throughput Time, efisiensi dapat dinilai dengan menghitung efisiensi siklus manufaktur atau Manufaktur Cycle Eficiency (MCE) yang merupakan angka yang menunjukkan seberapa efisien suatu produk diproduksi.


Efisiensi dapat dinilai dengan Manufacture Cicle Eficiency (MCE) dengan perhitungan:
MCE     =                       Processing Time
                                                               Throughput Time
Efisiensi dapat juga dinilai dari biaya produksi yang terbagi dalam tiga kategori: Bahan baku langsung (direct material), Tenaga kerja langsung (direct labour), Biaya overhead (overhead cost)

H. PRODUKTIVITAS
1.  Pengertian produktivitas
Menurut Hansen & Mowen, produktivitas adalah berkenaan dengan kegiatan memproduksi output dengan efisien dan secara khusus merujuk ke hubungan output dan input yang digunakan untuk memproduksi output atau merupakan perbandingan antara keluaran dengan masukan.
2.  Pengukuran Produktivitas
Pengukuran produktivitas operasional mempergunakan output yakni jumlah unit produksi yang dihasilkan dengan input jumlah jam tenaga kerja langsung.
Pengukuran produktivitas  =       Jumlah unit produksi (Output)
            operasional                   Jumlah jam tenaga kerja langsung (Input)
Produktivitas dapat diukur dengan membandingkan rasio produktivitas antara dua periode yang berbeda untuk menilai terjadinya kenaikan atau penurunan produktivitas.