PERKEMBANGAN
TEKNOLOGI MELIPUTI : SISTEM JUST-IN TIME(JIT)
A. Sejarah Just In Time
Just in Time dikembangkan oleh Toyota Motor Corporation tahun 1973.
Tujuan utamanya adalah pengurangan biaya atau perbaikan produktivitas dengan
menghilangkan berbagai pemborosan. Pengembangan
yang sangat penting dalam perencanaan dan pengendalian operasional saat ini
adalah JIT manufacturing yang kadang disebut sebagai”produk tanpa persedian”.
JIT bukan hanya sekedar sebuah metode yang bertujuan untuk mengurangi
persediaan. JIT juga memperhatikan keseluruhan system produksi sehingga
komponen yang bebas dari cacat dapat disediakan untuk tingkat produksi
selanjutnya tepat ketika mereka dibutuhkan – tidak terlambat dan tidak terlalu
cepat.
B.
Pengertian Just In Time
(JIT)
Sistem
produksi tepat waktu (Just In Time) adalah sistem produksi atau
sistem manajemen fabrikasi modern yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan
Jepang yang pada prinsipnya hanya memproduksi jenis-jenis barang yang diminta
sejumlah yang diperlukan dan pada saat dibutuhkan oleh konsumen.
JIT mempunyai empat aspek pokok
sebagai berikut:
1.
Produksi Just In Time (JIT), adalah
memproduksi apa yang dibutuhkan hanya pada saat dibutuhkan dan dalam jumlah yang
diperlukan.
2.
Autonomasi merupakan suatu unit
pengendalian cacat secara otomatis yang tidak memungkinkan unit cacat mengalir
ke proses berikutnya.
3.
Tenaga kerja fleksibel, maksudnya
adalah mengubah-ubah jumlah pekerja sesuai dengan fluktuasi permintaan.
4.
Berpikir kreatif dan menampung saran-saran karyawan
Tujuan utama yang ingin dicapai dari sistem JIT adalah:
1. Zero Defect (tidak ada barang yang rusak)
2. Zero Set-up Time (tidak ada waktu set-up)
3. Zero Lot Excesses (tidak ada kelebihan lot)
4. Zero Handling (tidak ada penanganan)
5. Zero Queues (tidak ada antrian)
6. Zero Breakdowns (tidak ada kerusakan mesin)
7. Zero Lead Time (tidak ada lead time)
Untuk mencapai tujuan tersebut, ada beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam penerapan Just In Time,diantaranya adalah sebagai berikut :
·
Aliran Material yang lancar – Sederhanakan pola aliran material. Untuk itu
dibutuhkan pengaturan total pada lini produksi. Ini juga membutuhkan akses
langsung dengan dan dari bagian penerimaan dan pengiriman. Tujuannya adalah
untuk mendapatkan aliran material yang tidak terputus dari bagian penerimaan
dan kemudian antar tiap tingkat produksi yang saling berhubungan secara
langsung, samapi pada bagian pengiriman. Apapun yang menghalangi aliran yang
merupakan target yang haru diselidiki dan dieliminasi.
·
Pengurangan waktu set-up – Sesuai dengan JIT, terdapat beberapa bagian
produksi diskret yang memilki waktu set-up mesin yang kadang-kadang membutuhkan
waktu beberapa jam. Hal ini tidak dapat ditoleransi dalam sistem JIT. Pengurangan
waktu setup yang dramatis telah dapat dicapai oleh berbagai perusahaan, kadang
dari 4-7 jam menjadi 3-7 menit. Ini membuat ukuran batch dapat dikurangi
menjadi jumlah yang sangta kecil, yang mengijinkan perusahaan menjadi sangat
fleksibel dan responsif dalam menghadapi perubahan permintaan konsumen.
·
Pengurangan lead time vendor – Sebagai pengganti dari pengiriman yang sangat
besar dari komponen-komponen yang harus dibeli setiap 2/3 bulan, dengan sistem
JIT kita ingin menerima komponen tepat pada saat operasi produksi membutuhkan.
Untuk itu perusahaan kadang-kadang harus membuat kontrak jangka panjang dengan
vendor untuk mendapatkan kondisi seperti ini.
·
Komponen zero defect – Sistem JIT tidak dapat mentolelir komponen
yang cacat, baik itu yang diproduksi maupun yang dibeli. Untuk komponen yang
diproduksi, teknis kontrol statistik harus digunakan untuk menjamin bahwa semua
proses sedang memproses komponen dalam toleransi setiap waktu. Untuk komponen
yang dibeli, vendor diminta untuk menjamin bahwa semua produk yang mereka
sediakan telah diproduksi dalam sistem produksi yang diawasi secara satistik.
Perusahaan kan selalu memiliki program sertifikasi vendor untuk menjamin
terlaksananya hal ini.
·
Kontrol lantai produksi yang
disiplin – Dalam system
pengawasan lantai produksi tradisional, penekanan diberikan pada utilitas
mesin, waktu produksi yang panjang yang dapat mengurangi biaya set up dan juga
pengurangan waktu pekerja. Untuk itu, order produksi dikeluarkan dengan
memperhatikan faktorfaktor ini. Dalam JIT, perhitungan performansi tradisional
ini sangat jauh dari keinginan untuk membentuk persediaan yang rendah dan
menghilangkan halhal yang menghalangi operasi yang responsif. Hal ini membuat
waktu awal pelepasan order yang tepat harus dilakukan setiap saat. Ini juga
berarti, kadangkadang mesin dan operator mesin dapat saja menganggur. Banyak
manajer produksi yang telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menjaga
agar mesin dan tenaga kerja tetap sibuk, mendapat kesulitan membuat
penyesuaian-penyesuaian yang dibutuhkan agar berhasil menggunakan operasi JIT.
Perusahaan yang telah berhasil mengimplementasikan filosofi JIT akan
mendapatkan manfaat yang besar.
C.
Elemen-elemen Just In Time
·
Pengurangan waktu set up
·
Aliran produksi lancar
(layout)
·
Produksi tanpa kerusakan
mesin
·
Produksi tanpa cacat
·
Peranan operator
·
Hubungan yang harmonis
dengan pemasok
·
Penjadwalan produksi stabil
dan terkendali
·
Sistem kanban
Pengurangan
waktu set up dan ukuran lot
a. Pemilihan kegiatan set up
Kegiatan set up bisa dipilih menjadi :
a. Pemilihan kegiatan set up
Kegiatan set up bisa dipilih menjadi :
1. Kegiatan eksternal set up: Persiapan cetakan dan alat bantu,
pemindahan cetakan dll.
2. Kegiatan internal set up: Bongkar pasang pada mesin, penyetelan
mesin dll.
b. Langkah
mengurangi waktu set up:
1. Memisahkan pekerjaan set up yang harus diselesaikan selagi mesin
berhenti (internal set up) terhadap pekerjaan yang dapat dikerjakan selagi
mesin beroprasi (eksternal set up).
2. Mengurangi internal set up dengan mengerjakan lebih banyak
eksternal set up, contohnya: Persiapan cetakan, pemindahan cetakan, peralatan
dll.
3. Mengurangi internal set up dengan mengurangi kegiatan
penyesuaian (adjustment), menyederhanakan alat bantu dan kegiatan bongkar
pasang, menambah personil pembantu dll.
4. Mengurangi total waktu untuk seluruh pekerjaan set up, baik
internal maupun eksternal.
Contoh:
·
Jika set up mesin lamanya 1
jam (60 menit), bisa disingkat menjadi 6 menit. Andaikata lot yang harus dibuat
banyaknya 3000 buah yang setiap unitnya memakan waktu 1 menit, maka waktu
produksinya =1 jam + (3000 x 1 menit)= 3060 menit= 51 jam.
·
Setelan waktu set up
dikurangi menjadi 6 menit, maka waktu produksinya menjadi= 6 menit + (3000 x 1
menit)= 3006 menit.
·
Namun, dengan waktu yang
sama (3060 menit) dapat dibuat lot sebanyak 300 buah dari berbagai jenis yang
diulang sebanyak 10 kali, yaitu: (6 menit + (300 x 1 menit) x 10= 3060
menit= 51 jam.
·
Hal ini berarti sistem
produksi lebih tanggap terhadap perubahan.
Aliran produksi
lancar (layout)
a. Pemborosan yang berkaitan dengan proses Layout
Pada layout proses ditemukan berbagai pemborosan, yaitu:
a. Pemborosan yang berkaitan dengan proses Layout
Pada layout proses ditemukan berbagai pemborosan, yaitu:
1.
Kesulitan koordinasi dan jadwal
produksi
2.
Pemborosan transportasi dan
material handling
3.
Akumulasi persediaan dalam proses
4.
Penanganan material berganda
bahkan beberapa kali
5.
Lead time produksi yang sangat
panjang
6.
Kesulitan mengenali penyebab cacat
produksi
7.
Arus material dan prosedur kerja
sulit dibakukan
8.
Sulitnya perbaikan kerja karena
tidak ada standardisasi
b. Menuju ke
Product Layout
c. Aliran produksi
c. Aliran produksi
·
Proses layout. Waktu simpan
komponen lama, tingkat persediaan tinggi dan prioritas kerja sulit ditentukan.
·
Ketidakseimbangan jalur.
Jika proses tidak terkoordinir maka komponen akan terakumulasi sebagai
persediaan dan pengaturan kerja akan sulit dilakukan
·
Set up/ penggantian alat
yang makan waktu. Persediaan komponen akan menumpuk, sementara proses
berikutnya akan tertunda
·
Kerusakan dan gangguan
mesin. Jalur akan berhenti dan akan terjadi penumpukan barang dalam proses
·
Masalah kualitas. Kalau
cacat produksi ditemukan, maka proses selanjutnya akan berhenti dan persediaan
akan menumpuk
·
Absensi. Jika seorang
operator ada yang berhalangan kerja dan penggantinya sulit ditemukan, maka
jalur produksi akan terhenti.
Produksi tanpa
kerusakan mesin
a. Preventive Maintenance
a. Preventive Maintenance
1.
Pendekatan untuk mencegah
kerusakan dan gangguan mesin
2.
Faktor penyebab gangguan mesin
3. Gangguan mesin dan penanggulannya
b. Total Productive Maintenance
1. Belajar bagaimana melakukan pemeliharaan rutin mesin, misalnya:
Pelumasan, pengencangan baut dan sebagainya. Guna mencegah penurunan daya kerja
mesin
2. Melaksanakan petunjuk penggunaan mesin secara wajar
3. Mengembangkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap tanda-tanda
awal penurunan kemampuan mesin, dengan melakukan perawatan yang mudah,
pembersihan, penyetelan dll
Sementara
karyawan bagian pemeliharaan, bisa melakukan antara lain:
1. Membantu operator produksi mempelajari kegiatan perawatan yang
dapat dilakukan sendiri
2. Memperbaiki penurunan kemampuan peralatan melalui inspeksi
berkala, bongkar pasang dan penyesuaian/penyetelan kembali
3. Menentukan kelemahan dalam rancang bangun mesin, merencanakan
dan melakukan tindakan perbaikan, menentukan kondisi wajar operasi mesin
4. Membantu operator menaikkan kemampuan perawatan dll
D. Penerapan JIT dalam
berbagai bidang fungsional perusahaan
a.
Pembelian JIT
Pembelian JIT adalah
sistem penjadwalan pengadaan barang dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat
dilakukan penyerahan segera untuk memenuhi permintaan atau penggunaan.
Pembelian JIT dapat mengurangi waktu dan biaya yang
berhubungan dengan aktivitas pembelian dengan cara:
1.
Mengurangi jumlah pemasok sehingga
perusahaan dapat mengurangi sumber-sumber yang dicurahkan dalam negosiasi
dengan pamasoknya.
2.
Mengurangi atau mengeliminasi
waktu dan biaya negosiasi dengan pemasok.
3.
Memiliki pembeli atau pelanggan
dengan program pembelian yang mapan.
4.
Mengeliminasi atau mengurangi
kegiatan dan biaya yang tidak bernilai tambah.
5.
Mengurangi waktu dan biaya untuk
program-program pemeriksaan mutu.
Penerapan pembelian JIT
dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi biaya dan manajemen dalam
beberapa cara sebagai berikut:
1.
Ketertelusuran langsung sejumlah
biaya dapat ditingkatkan.
2.
Perubahan “cost pools” yang digunakan untuk mengumpulkan biaya.
3.
Mengubah dasar yang digunakan
untuk mengalokasikan biaya sehingga banyak biaya tidak langsung dapat diubah
menjadi biaya langsung.
4.
Mengurangi perhitungan dan
penyajian informasi mengenai selisih harga beli secara individual
5. Mengurangi biaya administrasi penyelenggaraan sistem akuntansi
|
Traditional
Purchasing
|
Uraian
|
JIT
Purchasing
|
|
Pengiriman
dalam jumlah besar dan digunakan untuk beberapa minggu, frekuensi pengiriman
teratur, dan pengiriman dilakukan berdasarkan tanggal diinginkan pembeli.
|
Pengiriman
|
Pengiriman dalam jumlah kecil
untuk memenuhi kebutuhan permintaan produksi, frekuensi pengiriman lebih
sering, dan pengiriman disesuaikan jadwal produksi atau permintaan
pembeli.
|
|
Beberapa
pemasok untuk setiap bagian.
|
Jumlah
Pemasok
|
Sedikit pemasok untuk setiap
bagian, terkadang pemasok tunggal.
|
|
Pengadaan persediaan digunakan untuk mempertahankan kualitas
yang diinginkan dan berjaga-jaga,
Persediaan
diadakan beberapa waktu untuk menjamin kelancaran produksi.
|
Persediaan
|
Persediaan dalam jumlah kecil
karena diharapkan pengiriman lebih sering, tepat waktu, dan berkualitas
tinggi, Persediaan dikurangi karena dinilai mengakibatkan sumber daya yang
menganggur dan biaya meningkat.
|
|
Persetujuan
pembelian jangka pendek, menekankan pemasok dengan ancaman menarik kembali
persetujuan yang ada.
|
Persetujuan
Pembelian
|
Persetujuan pembelian jangka
panjang, menekankan pemasok melalui kewajiban untuk menyediakan barang dalam
hubungan kerjasama yang baik.
|
|
Produk dirancang dengan berbagai
pertimbangan atas jumlah komponen atau bahan yang dibeli dan digunakan.
|
Produk
|
Produk dirancang dengan usaha
keras untuk menggunakan semua bahan yang dibeli saat itu, tanpa bahan sisa.
|
|
Pertukaran informasi antara pemasok dengan
pembeli minimum.
|
Informasi
|
Pertukaran informasi antara
pemasok dengan perusahaan lebih luas dengan mengikuti jadwal produksi.
|
|
Harga
ditentukan pemasok.
|
Harga
|
Pembeli bekerjasama dengan
pemasok untuk mengurangi biaya pemasok dan pada akhirnya mengurangi harga.
|
|
Kedekatan
letak geografis pemasok tidak dipertimbangkan dalam pemilihan pemasok.
|
Lokasi
|
Kedekatan letak geografis
dipertimbangkan sebagai hal yang penting dalam pemilihan pemasok.
|
b. Produksi JIT
Produksi JIT adalah sistem penjadwalan produksi komponen
atau produk yang tepat waktu, mutu, dan jumlahnya sesuai dengan yang diperlukan
oleh tahap produksi berikutnya atau sesuai dengan memenuhi permintaan
pelanggan.
Produksi JIT dapat mengurangi waktu dan biaya produksi
dengan cara:
1.
Mengurangi atau meniadakan barang
dalam proses dalam setiap workstation (stasiun kerja) atau tahapan pengolahan produk
(konsep persediaan nol).
2.
Mengurangi atau meniadakan “Lead Time” (waktu tunggu) produksi
(konsep waktu tunggu nol).
3.
Secara berkesinambungan berusaha
sekeras-kerasnya untuk mengurangi biaya setup mesin-mesin pada setiap tahapan
pengolahan produk (workstation).
4.
Menekankan pada penyederhanaan
pengolahan produk sehingga aktivitas produksi yang tidak bernilai tambah dapat
dieliminasi.
Perusahaan yang
menggunakan produksi JIT dapat meningkatkan efisiensi dalam bidang:
1.
Lead time (waktu tunggu) pemanufakturan
2.
Persediaan bahan, barang dalam
proses, dan produk selesai
3.
Waktu perpindahan
4.
Tenaga kerja langsung dan tidak
langsung
5.
Ruangan pabrik
6.
Biaya mutu
7.
Pembelian bahan
Penerapan produksi JIT
dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi biaya dan manajemen dalam
beberapa cara sebagai berikut:
1.
Ketertelusuran langsung sejumlah
biaya dapat ditingkatkan
2.
Mengeliminasi atau mengurangi
kelompok biaya (cost pools) untuk
aktivitas tidak langsung
3.
Mengurangi frekuensi perhitungan
dan pelaporan informasi selisih biaya tenaga kerja dan overhead pabrik secara
individual
4.
Mengurangi keterincian informasi
yang dicatat dalam “work tickets”
|
Pull system
|
Uraian
|
Push
system
|
|
“a JIT consept that results in material being produced only when
requested and moved to where it is needed just as it is need”;
artinya
sistem tarik adalah konsep Just In Time yang melakukan produksi unit
atau barang hanya pada saat dibutuhkan dan untuk dipindahkan ke tempat atau
proses yang membutuhkan secara tepat waktu.
|
Konsep
|
“A system that pushes material into downstream workstation regardless
of their timeliness or availability or resources to perform the work”;
adalah
sistem yang mendorong bahan baku
ke proses berikutnya tanpa mempertimbangkan waktu atau kemampuan kapasitas
proses berikutnya untuk melakukan pekerjaan tersebut.
|
|
Proses
berikutnya mengambil atau menarik suku cadang atau komponen dari proses
terdahulu, proses terdahulu memproduksi suku cadang yang telah diambil proses berikutnya.
|
Cara kerja
|
Proses
terdahulu memasok suku cadang atau komponen untuk didistribusikan ke proses
berikutnya, produksi terus dilakukan sesuai jumlah dan jadwal produksi
serentak.
|
|
Mudah
menyesuaikan diri karena tidak diperlukan jadwal produksi secara serentak
untuk semua proses.
|
Adaptasi
|
Sulit
menyesuaikan diri secara cepat bila ada perubahan fluktuasi permintaan dan
bila ada gangguan pada proses.
|
|
Adanya
perubahan jadwal produksi hanya perlu diketahui lini terakhir atau proses
produksi terakhir.
|
Jadwal
Produksi
|
Adanya
perubahan jadwal produksi yang sering dilakukan untuk menyesuaikan diri
terhadap perubahan permintaan.
|
|
Perusahaan
tidak perlu menimbun persediaan, karena kuantitas produk yang dihasilkan sejumlah kuantitas yang
dibutuhkan pada saat dibutuhkan, menciptakan keseimbangan antar proses. Kekurangan persediaan
diatasi dengan eliminasi kerusakan
sampai nol (zero defects).
|
Persediaan
|
Perusahaan
harus menimbun persediaan diantara semua proses, menciptakan
ketidakseimbangan antar proses yang sering mengakibatkan kelebihan produksi,
persediaan yang tidak terpakai, kelebihan perlengkapan, dan surplus pekerja.
|
E. Pemanufakturan JIT dan
Penentuan Biaya Produk
Pemanufakturan JIT menggunakan pendekatan yang lebih
memusat daripada yang ditemui dalam pemanufakturan tradisional.Penggunaan
sistem pemanufakturan JIT mempunyai dampak pada:
·
Meningkatkan Keterlacakan
(Ketertelusuran) biaya.
·
Meningkatkan akurasi
penghitungan biaya produk.
·
Mengurangi perlunya alokasi
pusat biaya jasa (departemen jasa)
·
Mengubah perilaku dan
relatif pentingnya biaya tenaga kerja langsung.
·
Mempengaruhi sistem
penentuan harga pokok pesanan dan proses.
·
Dasar-dasar
pemanufakturan JIT dan perbedaannya dengan pemanufakturan tradisional:
1.
JIT Dibandingkan dengan
Pemanufakturan Tradisional.
Pemanufakturan JIT adalah
sistem tarikan permintaan (Demand-Pull).
Tujuan pemanufakturan JIT adalah memproduksi produk hanya jika produk tersebut
dibutuhkan dan hanya sebesar jumlah permintaan pembeli (pelanggan). Beberapa
perbedaan pemanufakturan JIT dengan Tradisional meliputi:
a. Persediaan
Rendah
b. Sel-sel
Pemanufakturan dan Tenaga Kerja Interdisipliner
c.
Filosofi TQC (Total Quality Control)
2.
JIT dan Ketertelusuran Biaya
Overhead
Dalam lingkungan
JIT, beberapa aktivitas overhead yang tadinya digunakan bersama untuk lebih
dari satu lini produk sekarang dapat ditelusuri secara langsung ke satu produk
tunggal. Manufaktur yang berbentuk sel-sel, tanaga kerja yang
terinterdisipliner, dan aktivitas jasa yang terdesentralisasi adalah
karakteristik utama JIT.
3.
Keakuratan Penentuan Biaya Produk
dan JIT
Salah satu konsekuensi dari penurunan biaya tidak
langsung dan kenaikan biaya langsung adalah meningkatkan keakuratan penentuan
biaya (Harga Pokok Produk).
Pemanufakturan JIT, dengan mengurangi kelompok biaya tidak langsung dan
mengubah sebagian besar dari biaya tersebut menjadi biaya langsung maupun
sebaliknya, dapat menurunkan kebutuhan penaksiran yang sulit.
4.
JIT dan Alokasi Biaya Pusat Jasa
Dalam manufaktur tradisional, sentralisasi pusat-pusat
jasa memberikan dukungan pada berbagai departemen produksi. Dalam lingkungan
JIT, banyak jasa didesentralisasikan.Hal ini dicapai dengan membebankan pekerja
dengan keahlian khusus secara langsung ke lini produk dan melatih tenaga kerja
langsung yang ada dalam sel-sel untuk melaksanakan aktivitas jasa yang semula
dilakukan oleh tenaga kerja tidak langsung.
5.
Pengaruh JIT pada Biaya Tenaga
Kerja Langsung
Sebagai perusahaan yang menerapkan JIT dan otomatisasi,
biaya tenaga kerja langsung tradisional dikurangi secara signifikan.Oleh sebab
itu ada dua akibat:
1. Persentasi
biaya tenaga kerja langsung dibandingkan total biaya produksi menjadi berkurang
2. Biaya tenaga
kerja langsung berubah dari biaya variabel menjadi biaya tetap.
6.
Pengaruh JIT pada Penilaian Persediaan
Salah satu masalah pertama akuntansi yang dapat
dihilangkan dengan penggunaan pemanufakturan JIT adalah kebutuhan untuk
menentukan biaya produk dalam rangka penilaian persediaan. Jika terdapat
persediaan, maka persediaan tersebut harus dinilai, dan penilaiannya mengikuti
aturan-aturan tertentu untuk tujuan pelaporan keuangan. Dalam JIT
diusahakan persediaan nol (atau paling
tidak pada tingkat yang tidak signifikan), sehingga penilaian persediaan
menjadi tidak relevan untuk tujuan pelaporan keuangan.Dalam JIT, keberadaan
penentuan harga pokok produk hanya untuk memuaskan tujuan manajerial. Manajer
memerlukan informasi biaya produk yang akurat untuk membuat berbagai keputusan
misalnya:
(a) penetapan harga jual berdasar cost-plus,
(b) analisis trend biaya,
(c) analisis profitabilitas lini produk,
(d) perbandingan dengan biaya para pesaing,
(e) keputusan membeli atau membuat sendiri,
7.
Pengaruh JIT pada Harga Pokok
Pesanan
Dalam penerapan JIT untuk penentuan order pesanan,
pertama, perusahaan harus memisahkan bisnis yang sifatnya berulang-ulang dari
pesanan khusus.Selanjutnya, sel-sel pemanufakturan dapat dibentuk untuk bisnis
berulang-ulang.
Dengan mereorganisasi
tata letak pemanufakturan, pesanan tidak membutuhkan perhatian yang besar dalam
mengelompokkan harga pokok produksi. Hal ini karena biaya dapat dikelompokkan
pada level selular. lagi pula, karena
ukuran lot sekarang lebih sangat kecil,maka tidak praktis untuk menyusun
kartu harga pokok pesanan untuk setiap pesanan. Maka lingkungan pesanan akan
menggunakan sifat sistem harga pokok proses.
8.
Penentuan Harga Pokok Proses dan
JIT
Dalam metode
proses, perhitungan biaya per unit akan menjadi lebih rumit karena
adanya persediaan barang dalam proses. Dengan menggunakan JIT, diusahakan
persediaan nol, sehingga penghitungan unit ekuivalen tidak terlalu dibutuhkan,
dan tidak perlu menghitung biaya dari periode sebelumnya. JIT secara signifikan mengarah pada penyederhanaan.
9.
JIT dan Otomasi
Sejak
sistem JIT digunakan, biasanya hanya menunjukkan kemungkinan otomasi dalam
beberapa hal. Karena tidaklah umum bagi perusahaan yang menggunakan JIT untuk
mengikutinya dengan pemilikan
teknologi pemenufakturan maju. Otomasi perusahaan untuk :
(a)
menaikkan kapasitas produksi,
(b)
menaikkan efisiensi,
(c)
meningkatkan mutu dan pelayanan,
(d)
menurukan waktu pengolahan,
(e)
meningkatkan keluaran.
Otomasi meningkatkan kemampuan untuk
menelusuri biaya pada berbagai produk secara individual. sebagai contoh sel-sel
FMS, merupakan rekan terotomasi dari sel-sel pemanufakturan JIT. Jadi. beberapa
biaya yang merupakan biaya yang tidak langsung dalam lingkungan tradisional
sekarang menjadi biaya langsung.
10. Penentuan Harga Pokok Backflush
Penentuan
harga pokok backflush mengeliminasi rekening barang dalam proses dan
membebankan biaya produksi secara langsung pada produk selesai. Perusahaan
menggunakan backflush costing jika terdapat kondisi-kondisi sebagai berikut :
1.
Manajemen ingin sistem akuntansi
yang sederhana.
2.
Setiap produk ditentukan biaya
standarnya.
3.
Metode ini menghasilkan penentuan
harga pokok produk yang kira-kira mengasilkan informasi keuangan yang sama
dengan penelusuran secara berurutan.
Ada dua perubahan relatif pada sistem konvensional yaitu :
1.
Perubahan Akuntansi Bahan
2.
Perubahan Akuntansi Biaya Konversi
F.
SISTEM KANBAN
1.
Pengertian Sistem Kanban
Sistem Kanban adalah suatu sistem
informasi yang secara serasi mengendalikan jumlah produksi dalam setiap proses.
2. Jenis Kanban
Terdapat tiga jenis Kanban yang
sering digunakan, yakni:
a.
Kanban pengambilan (a
withdrawal kanban)
b.
Kanban perintah-produksi
atau Kanban produksi (a production kanban)
c.
Kanban pemasok .
G.
EFISIENSI
1.
Pengertian efisiensi
Pengertian
Efisiensi menurut Stephen & Mary dalam “Management” dinyatakan sebagai
berikut :
“Eficiency
is getting the most output from the least amount of inputs referred to doing
things right”.
2. Pengukuran efisiensi
Menurut
Blocher et al., efisiensi dapat diukur dari Throughput Time :
JIT TQC Cellular JIT Zero
Manufacturing Zero defects manufacturing Inventory
Throughput Time =
Processing + Inspection +
Moving + Storage
Time Time Time Time
Value added
time Non value
added time
Keterangan
:
a.
Throughput Time adalah
keseluruhan interval waktu untuk mengolah atau mengkonversikan bahan baku menjadi produk jadi.
b.
Processing Time adalah waktu
yang dibutuhkan untuk memproses atau memproduksi suatu produk dalam proses
produksi.
c.
Inspection Time adalah
waktu yang diperlukan untuk melakukan inspeksi atau pemeriksaan terhadap bahan baku.
d. Moving Time adalah waktu yang dikonsumsi saat produk
dipindahkan dari satu departemen ke departemen lain.
e. Storage Time adalah waktu untuk menyimpan bahan baku,
produk dalam proses dan produk jadi.
Berdasarkan Throughput Time, efisiensi dapat dinilai
dengan menghitung efisiensi siklus manufaktur atau Manufaktur Cycle
Eficiency (MCE) yang merupakan angka yang menunjukkan seberapa efisien
suatu produk diproduksi.
Efisiensi
dapat dinilai dengan Manufacture Cicle Eficiency (MCE) dengan
perhitungan:
MCE = Processing Time
Throughput Time
Efisiensi
dapat juga dinilai dari biaya produksi yang terbagi dalam tiga kategori: Bahan
baku langsung (direct material), Tenaga kerja langsung (direct labour),
Biaya overhead (overhead cost)
H. PRODUKTIVITAS
1. Pengertian produktivitas
Menurut Hansen & Mowen, produktivitas adalah
berkenaan dengan kegiatan memproduksi output dengan efisien dan secara khusus
merujuk ke hubungan output dan input yang digunakan untuk memproduksi output
atau merupakan perbandingan antara keluaran dengan masukan.
2. Pengukuran Produktivitas
Pengukuran
produktivitas operasional mempergunakan output yakni jumlah unit produksi yang
dihasilkan dengan input jumlah jam tenaga kerja langsung.
Pengukuran
produktivitas = Jumlah unit produksi
(Output)
operasional Jumlah jam
tenaga kerja langsung (Input)
Produktivitas dapat diukur dengan
membandingkan rasio produktivitas antara dua periode yang berbeda untuk menilai
terjadinya kenaikan atau penurunan produktivitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar