Rabu, 02 Maret 2016

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI MELIPUTI : SISTEM JUST-IN TIME(JIT)



PERKEMBANGAN TEKNOLOGI MELIPUTI : SISTEM JUST-IN TIME(JIT)

A.    Sejarah Just In Time
Just in Time dikembangkan oleh Toyota Motor Corporation tahun 1973. Tujuan utamanya adalah pengurangan biaya atau perbaikan produktivitas dengan menghilangkan berbagai pemborosan. Pengembangan yang sangat penting dalam perencanaan dan pengendalian operasional saat ini adalah JIT manufacturing yang kadang disebut sebagai”produk tanpa persedian”. JIT bukan hanya sekedar sebuah metode yang bertujuan untuk mengurangi persediaan. JIT juga memperhatikan keseluruhan system produksi sehingga komponen yang bebas dari cacat dapat disediakan untuk tingkat produksi selanjutnya tepat ketika mereka dibutuhkan – tidak terlambat dan tidak terlalu cepat.

B.     Pengertian Just In Time (JIT)
Sistem produksi tepat waktu (Just In Time) adalah sistem produksi atau sistem manajemen fabrikasi modern yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan Jepang yang pada prinsipnya hanya memproduksi jenis-jenis barang yang diminta sejumlah yang diperlukan dan pada saat dibutuhkan oleh konsumen.
JIT mempunyai empat  aspek pokok sebagai berikut:
1.      Produksi Just In Time (JIT), adalah memproduksi apa yang dibutuhkan hanya pada saat dibutuhkan dan dalam jumlah yang diperlukan.
2.      Autonomasi merupakan suatu unit pengendalian cacat secara otomatis yang tidak memungkinkan unit cacat mengalir ke proses berikutnya.
3.      Tenaga kerja fleksibel, maksudnya adalah mengubah-ubah jumlah pekerja sesuai dengan fluktuasi permintaan.
4.      Berpikir kreatif dan menampung saran-saran karyawan
Tujuan utama yang ingin dicapai dari sistem JIT adalah:
1. Zero Defect (tidak ada barang yang rusak)
2. Zero Set-up Time (tidak ada waktu set-up)
3. Zero Lot Excesses (tidak ada kelebihan lot)
4. Zero Handling (tidak ada penanganan)
5. Zero Queues (tidak ada antrian)
6. Zero Breakdowns (tidak ada kerusakan mesin)
7. Zero Lead Time (tidak ada lead time)
Untuk mencapai tujuan tersebut, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penerapan Just In Time,diantaranya adalah sebagai berikut :
·         Aliran Material yang lancar – Sederhanakan pola aliran material. Untuk itu dibutuhkan pengaturan total pada lini produksi. Ini juga membutuhkan akses langsung dengan dan dari bagian penerimaan dan pengiriman. Tujuannya adalah untuk mendapatkan aliran material yang tidak terputus dari bagian penerimaan dan kemudian antar tiap tingkat produksi yang saling berhubungan secara langsung, samapi pada bagian pengiriman. Apapun yang menghalangi aliran yang merupakan target yang haru diselidiki dan dieliminasi.
·         Pengurangan waktu set-up – Sesuai dengan JIT, terdapat beberapa bagian produksi diskret yang memilki waktu set-up mesin yang kadang-kadang membutuhkan waktu beberapa jam. Hal ini tidak dapat ditoleransi dalam sistem JIT. Pengurangan waktu setup yang dramatis telah dapat dicapai oleh berbagai perusahaan, kadang dari 4-7 jam menjadi 3-7 menit. Ini membuat ukuran batch dapat dikurangi menjadi jumlah yang sangta kecil, yang mengijinkan perusahaan menjadi sangat fleksibel dan responsif dalam menghadapi perubahan permintaan konsumen.
·         Pengurangan lead time vendor – Sebagai pengganti dari pengiriman yang sangat besar dari komponen-komponen yang harus dibeli setiap 2/3 bulan, dengan sistem JIT kita ingin menerima komponen tepat pada saat operasi produksi membutuhkan. Untuk itu perusahaan kadang-kadang harus membuat kontrak jangka panjang dengan vendor untuk mendapatkan kondisi seperti ini.
·         Komponen zero defect – Sistem JIT tidak dapat mentolelir komponen yang cacat, baik itu yang diproduksi maupun yang dibeli. Untuk komponen yang diproduksi, teknis kontrol statistik harus digunakan untuk menjamin bahwa semua proses sedang memproses komponen dalam toleransi setiap waktu. Untuk komponen yang dibeli, vendor diminta untuk menjamin bahwa semua produk yang mereka sediakan telah diproduksi dalam sistem produksi yang diawasi secara satistik. Perusahaan kan selalu memiliki program sertifikasi vendor untuk menjamin terlaksananya hal ini.
·         Kontrol lantai produksi yang disiplin – Dalam system pengawasan lantai produksi tradisional, penekanan diberikan pada utilitas mesin, waktu produksi yang panjang yang dapat mengurangi biaya set up dan juga pengurangan waktu pekerja. Untuk itu, order produksi dikeluarkan dengan memperhatikan faktorfaktor ini. Dalam JIT, perhitungan performansi tradisional ini sangat jauh dari keinginan untuk membentuk persediaan yang rendah dan menghilangkan halhal yang menghalangi operasi yang responsif. Hal ini membuat waktu awal pelepasan order yang tepat harus dilakukan setiap saat. Ini juga berarti, kadangkadang mesin dan operator mesin dapat saja menganggur. Banyak manajer produksi yang telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menjaga agar mesin dan tenaga kerja tetap sibuk, mendapat kesulitan membuat penyesuaian-penyesuaian yang dibutuhkan agar berhasil menggunakan operasi JIT. Perusahaan yang telah berhasil mengimplementasikan filosofi JIT akan mendapatkan manfaat yang besar.

C.     Elemen-elemen Just In Time
·         Pengurangan waktu set up
·         Aliran produksi lancar (layout)
·         Produksi tanpa kerusakan mesin
·         Produksi tanpa cacat
·         Peranan operator
·         Hubungan yang harmonis dengan pemasok
·         Penjadwalan produksi stabil dan terkendali
·         Sistem kanban 
Pengurangan waktu set up dan ukuran lot
a. Pemilihan kegiatan set up
    Kegiatan set up bisa dipilih menjadi :
1.      Kegiatan eksternal set up: Persiapan cetakan dan alat bantu, pemindahan cetakan dll.
2.      Kegiatan internal set up: Bongkar pasang pada mesin, penyetelan mesin dll.

b. Langkah mengurangi waktu set up:
1.      Memisahkan pekerjaan set up yang harus diselesaikan selagi mesin berhenti (internal set up) terhadap pekerjaan yang dapat dikerjakan selagi mesin beroprasi (eksternal set up).
2.      Mengurangi internal set up dengan mengerjakan lebih banyak eksternal set up, contohnya: Persiapan cetakan, pemindahan cetakan, peralatan dll.
3.      Mengurangi internal set up dengan mengurangi kegiatan penyesuaian (adjustment), menyederhanakan alat bantu dan kegiatan bongkar pasang, menambah personil pembantu dll.
4.      Mengurangi total waktu untuk seluruh pekerjaan set up, baik internal maupun eksternal.
Contoh:
·         Jika set up mesin lamanya 1 jam (60 menit), bisa disingkat menjadi 6 menit. Andaikata lot yang harus dibuat banyaknya 3000 buah yang setiap unitnya memakan waktu 1 menit, maka waktu produksinya =1 jam + (3000 x 1 menit)= 3060 menit= 51 jam.
·         Setelan waktu set up dikurangi menjadi 6 menit, maka waktu produksinya menjadi= 6 menit + (3000 x 1 menit)= 3006 menit.
·         Namun, dengan waktu yang sama (3060 menit) dapat dibuat lot sebanyak 300 buah dari berbagai jenis yang diulang  sebanyak 10 kali, yaitu: (6 menit + (300 x 1 menit) x 10= 3060 menit= 51 jam.
·         Hal ini berarti sistem produksi lebih tanggap terhadap perubahan. 

Aliran produksi lancar (layout)
a. Pemborosan yang berkaitan dengan proses Layout
    Pada layout proses ditemukan berbagai pemborosan, yaitu:
1.      Kesulitan koordinasi dan jadwal produksi
2.      Pemborosan transportasi dan material handling 
3.      Akumulasi persediaan dalam proses
4.      Penanganan material berganda bahkan beberapa kali
5.      Lead time produksi yang sangat panjang 
6.      Kesulitan mengenali penyebab cacat produksi
7.      Arus material dan prosedur kerja sulit dibakukan 
8.      Sulitnya perbaikan kerja karena tidak ada standardisasi
b. Menuju ke Product Layout
c. Aliran produksi
·         Proses layout. Waktu simpan komponen lama, tingkat persediaan tinggi dan prioritas kerja sulit ditentukan.
·         Ketidakseimbangan jalur. Jika proses tidak terkoordinir maka komponen akan terakumulasi sebagai persediaan dan pengaturan kerja akan sulit dilakukan 
·         Set up/ penggantian alat yang makan waktu. Persediaan komponen akan menumpuk, sementara proses berikutnya akan tertunda
·         Kerusakan dan gangguan mesin. Jalur akan berhenti dan akan terjadi penumpukan barang dalam proses
·         Masalah kualitas. Kalau cacat produksi ditemukan, maka proses selanjutnya akan berhenti dan persediaan akan menumpuk
·         Absensi. Jika seorang operator ada yang berhalangan kerja dan penggantinya sulit ditemukan, maka jalur produksi akan terhenti.
Produksi tanpa kerusakan mesin
a. Preventive Maintenance
1.      Pendekatan untuk mencegah kerusakan dan gangguan mesin 
2.      Faktor penyebab gangguan mesin
3.      Gangguan mesin dan penanggulannya
b. Total Productive Maintenance
1.      Belajar bagaimana melakukan pemeliharaan rutin mesin, misalnya: Pelumasan, pengencangan baut dan sebagainya. Guna mencegah penurunan daya kerja mesin
2.      Melaksanakan petunjuk penggunaan mesin secara wajar
3.      Mengembangkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap tanda-tanda awal penurunan kemampuan mesin, dengan melakukan perawatan yang mudah, pembersihan, penyetelan dll
Sementara karyawan bagian pemeliharaan, bisa melakukan antara lain:
1.      Membantu operator produksi mempelajari kegiatan perawatan yang dapat dilakukan sendiri
2.      Memperbaiki penurunan kemampuan peralatan melalui inspeksi berkala, bongkar pasang dan penyesuaian/penyetelan kembali
3.      Menentukan kelemahan dalam rancang bangun mesin, merencanakan dan melakukan tindakan perbaikan, menentukan kondisi wajar operasi mesin
4.      Membantu operator menaikkan kemampuan perawatan dll
D.    Penerapan JIT dalam berbagai bidang fungsional perusahaan
a.      Pembelian JIT
           Pembelian JIT adalah sistem penjadwalan pengadaan barang dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat dilakukan penyerahan segera untuk memenuhi permintaan atau penggunaan.
Pembelian JIT dapat mengurangi waktu dan biaya yang berhubungan dengan aktivitas pembelian dengan cara:
1.      Mengurangi jumlah pemasok sehingga perusahaan dapat mengurangi sumber-sumber yang dicurahkan dalam negosiasi dengan pamasoknya.
2.      Mengurangi atau mengeliminasi waktu dan biaya negosiasi dengan pemasok.
3.      Memiliki pembeli atau pelanggan dengan program pembelian yang mapan.
4.      Mengeliminasi atau mengurangi kegiatan dan biaya yang tidak bernilai tambah.
5.      Mengurangi waktu dan biaya untuk program-program pemeriksaan mutu.

           Penerapan pembelian JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi biaya dan manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut:
1.      Ketertelusuran langsung sejumlah biaya dapat ditingkatkan.
2.      Perubahan “cost pools” yang digunakan untuk mengumpulkan biaya.
3.      Mengubah dasar yang digunakan untuk mengalokasikan biaya sehingga banyak biaya tidak langsung dapat diubah menjadi biaya langsung.
4.      Mengurangi perhitungan dan penyajian informasi mengenai selisih harga beli secara individual
5.      Mengurangi biaya administrasi penyelenggaraan sistem akuntansi








Traditional Purchasing
Uraian
JIT Purchasing
Pengiriman dalam jumlah besar dan digunakan untuk beberapa minggu, frekuensi pengiriman teratur, dan pengiriman dilakukan berdasarkan tanggal diinginkan pembeli.




Pengiriman
Pengiriman dalam jumlah kecil untuk memenuhi kebutuhan permintaan produksi, frekuensi pengiriman lebih sering, dan pengiriman disesuaikan jadwal produksi atau permintaan pembeli.            

Beberapa pemasok untuk setiap bagian.
Jumlah
Pemasok
Sedikit pemasok untuk setiap bagian, terkadang pemasok tunggal.
Pengadaan  persediaan digunakan untuk mempertahankan kualitas yang diinginkan dan berjaga-jaga,
Persediaan diadakan beberapa waktu untuk menjamin kelancaran produksi.



Persediaan
Persediaan dalam jumlah kecil karena diharapkan pengiriman lebih sering, tepat waktu, dan berkualitas tinggi, Persediaan dikurangi karena dinilai mengakibatkan sumber daya yang menganggur dan biaya meningkat.
Persetujuan pembelian jangka pendek, menekankan pemasok dengan ancaman menarik kembali persetujuan yang ada.

Persetujuan
Pembelian
Persetujuan pembelian jangka panjang, menekankan pemasok melalui kewajiban untuk menyediakan barang dalam hubungan kerjasama yang baik.
Produk dirancang dengan berbagai pertimbangan atas jumlah komponen atau bahan yang dibeli dan digunakan.

Produk
Produk dirancang dengan usaha keras untuk menggunakan semua bahan yang dibeli saat itu, tanpa bahan sisa.
Pertukaran informasi antara pemasok dengan pembeli minimum.

Informasi
Pertukaran informasi antara pemasok dengan perusahaan lebih luas dengan mengikuti jadwal produksi.
Harga ditentukan pemasok.

Harga
Pembeli bekerjasama dengan pemasok untuk mengurangi biaya pemasok dan pada akhirnya mengurangi harga.
Kedekatan letak geografis pemasok tidak dipertimbangkan dalam pemilihan pemasok.

Lokasi
Kedekatan letak geografis dipertimbangkan sebagai hal yang penting dalam pemilihan pemasok.


b. Produksi JIT

           Produksi JIT adalah sistem penjadwalan produksi komponen atau produk yang tepat waktu, mutu, dan jumlahnya sesuai dengan yang diperlukan oleh tahap produksi berikutnya atau sesuai dengan memenuhi permintaan pelanggan.
Produksi JIT dapat mengurangi waktu dan biaya produksi dengan cara:
1.      Mengurangi atau meniadakan barang dalam proses dalam setiap workstation (stasiun kerja) atau tahapan pengolahan produk (konsep persediaan nol).
2.      Mengurangi atau meniadakan “Lead Time” (waktu tunggu) produksi (konsep waktu tunggu nol).
3.      Secara berkesinambungan berusaha sekeras-kerasnya untuk mengurangi biaya setup mesin-mesin pada setiap tahapan pengolahan produk (workstation).
4.      Menekankan pada penyederhanaan pengolahan produk sehingga aktivitas produksi yang tidak bernilai tambah dapat dieliminasi.

           Perusahaan yang menggunakan produksi JIT dapat meningkatkan efisiensi dalam bidang:
1.      Lead time (waktu tunggu) pemanufakturan
2.      Persediaan bahan, barang dalam proses, dan produk selesai
3.      Waktu perpindahan
4.      Tenaga kerja langsung dan tidak langsung
5.      Ruangan pabrik
6.      Biaya mutu
7.      Pembelian bahan

           Penerapan produksi JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi biaya dan manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut:
1.      Ketertelusuran langsung sejumlah biaya dapat ditingkatkan
2.      Mengeliminasi atau mengurangi kelompok biaya (cost pools) untuk aktivitas tidak langsung
3.      Mengurangi frekuensi perhitungan dan pelaporan informasi selisih biaya tenaga kerja dan overhead pabrik secara individual
4.      Mengurangi keterincian informasi yang dicatat dalam “work tickets”
Pull system
Uraian

 Push system
“a JIT consept that results in material being produced only when requested and moved to where it is needed just as it is need”;
artinya sistem tarik adalah konsep Just In Time yang melakukan produksi unit atau barang hanya pada saat dibutuhkan dan untuk dipindahkan ke tempat atau proses yang membutuhkan secara tepat waktu.





Konsep
“A system that pushes material into downstream workstation regardless of their timeliness or availability or resources to perform the work”;
adalah sistem yang mendorong bahan baku ke proses berikutnya tanpa mempertimbangkan waktu atau kemampuan kapasitas proses berikutnya untuk melakukan pekerjaan tersebut.
Proses berikutnya mengambil atau menarik suku cadang atau komponen dari proses terdahulu, proses terdahulu memproduksi suku cadang yang  telah diambil proses berikutnya.


Cara kerja
Proses terdahulu memasok suku cadang atau komponen untuk didistribusikan ke proses berikutnya, produksi terus dilakukan sesuai jumlah dan jadwal produksi serentak.
Mudah menyesuaikan diri karena tidak diperlukan jadwal produksi secara serentak untuk semua proses.

Adaptasi
Sulit menyesuaikan diri secara cepat bila ada perubahan fluktuasi permintaan dan bila ada gangguan pada proses.
Adanya perubahan jadwal produksi hanya perlu diketahui lini terakhir atau proses produksi terakhir.

Jadwal
Produksi
Adanya perubahan jadwal produksi yang sering dilakukan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan permintaan.
Perusahaan tidak perlu menimbun persediaan, karena kuantitas produk  yang dihasilkan sejumlah kuantitas yang dibutuhkan pada saat dibutuhkan, menciptakan keseimbangan antar proses. Kekurangan persediaan diatasi dengan eliminasi  kerusakan sampai nol (zero defects).



Persediaan
Perusahaan harus menimbun persediaan diantara semua proses, menciptakan ketidakseimbangan antar proses yang sering mengakibatkan kelebihan produksi, persediaan yang tidak terpakai, kelebihan perlengkapan, dan surplus pekerja.




























E.     Pemanufakturan JIT dan Penentuan Biaya Produk
Pemanufakturan JIT menggunakan pendekatan yang lebih memusat daripada yang ditemui dalam pemanufakturan tradisional.Penggunaan sistem pemanufakturan JIT mempunyai dampak pada:
·         Meningkatkan Keterlacakan (Ketertelusuran) biaya.
·         Meningkatkan akurasi penghitungan biaya produk.
·         Mengurangi perlunya alokasi pusat biaya jasa (departemen jasa)
·         Mengubah perilaku dan relatif pentingnya biaya tenaga kerja langsung.
·         Mempengaruhi sistem penentuan harga pokok pesanan dan proses.
·          
           Dasar-dasar pemanufakturan JIT dan perbedaannya dengan pemanufakturan tradisional:
1.      JIT Dibandingkan dengan Pemanufakturan Tradisional.

           Pemanufakturan JIT adalah sistem tarikan permintaan (Demand-Pull). Tujuan pemanufakturan JIT adalah memproduksi produk hanya jika produk tersebut dibutuhkan dan hanya sebesar jumlah permintaan pembeli (pelanggan). Beberapa perbedaan pemanufakturan JIT dengan Tradisional meliputi:
a.  Persediaan Rendah
b.  Sel-sel Pemanufakturan dan Tenaga Kerja Interdisipliner
c.       Filosofi TQC (Total Quality Control)

2.      JIT dan Ketertelusuran Biaya Overhead
Dalam lingkungan JIT, beberapa aktivitas overhead yang tadinya digunakan bersama untuk lebih dari satu lini produk sekarang dapat ditelusuri secara langsung ke satu produk tunggal. Manufaktur yang berbentuk sel-sel, tanaga kerja yang terinterdisipliner, dan aktivitas jasa yang terdesentralisasi adalah karakteristik utama JIT.



3.      Keakuratan Penentuan Biaya Produk dan JIT
Salah satu konsekuensi dari penurunan biaya tidak langsung dan kenaikan biaya langsung adalah meningkatkan keakuratan penentuan biaya (Harga Pokok Produk).
Pemanufakturan JIT, dengan mengurangi kelompok biaya tidak langsung dan mengubah sebagian besar dari biaya tersebut menjadi biaya langsung maupun sebaliknya, dapat menurunkan kebutuhan penaksiran yang sulit.

4.      JIT dan Alokasi Biaya Pusat Jasa
Dalam manufaktur tradisional, sentralisasi pusat-pusat jasa memberikan dukungan pada berbagai departemen produksi. Dalam lingkungan JIT, banyak jasa didesentralisasikan.Hal ini dicapai dengan membebankan pekerja dengan keahlian khusus secara langsung ke lini produk dan melatih tenaga kerja langsung yang ada dalam sel-sel untuk melaksanakan aktivitas jasa yang semula dilakukan oleh tenaga kerja tidak langsung.

5.      Pengaruh JIT pada Biaya Tenaga Kerja Langsung
Sebagai perusahaan yang menerapkan JIT dan otomatisasi, biaya tenaga kerja langsung tradisional dikurangi secara signifikan.Oleh sebab itu ada dua akibat:
1.  Persentasi biaya tenaga kerja langsung dibandingkan total biaya produksi menjadi berkurang
2.  Biaya tenaga kerja langsung berubah dari biaya variabel menjadi biaya tetap.

6.      Pengaruh JIT pada Penilaian  Persediaan
Salah satu masalah pertama akuntansi yang dapat dihilangkan dengan penggunaan pemanufakturan JIT adalah kebutuhan untuk menentukan biaya produk dalam rangka penilaian persediaan. Jika terdapat persediaan, maka persediaan tersebut harus dinilai, dan penilaiannya mengikuti aturan-aturan tertentu untuk tujuan pelaporan keuangan. Dalam JIT diusahakan  persediaan nol (atau paling tidak pada tingkat yang tidak signifikan), sehingga penilaian persediaan menjadi tidak relevan untuk tujuan pelaporan keuangan.Dalam JIT, keberadaan penentuan harga pokok produk hanya untuk memuaskan tujuan manajerial. Manajer memerlukan informasi biaya produk yang akurat untuk membuat berbagai keputusan misalnya:
(a) penetapan harga jual berdasar cost-plus,
(b) analisis trend biaya,
(c) analisis profitabilitas lini produk,
(d) perbandingan dengan biaya para pesaing,
(e) keputusan membeli atau membuat sendiri,

7.      Pengaruh JIT pada Harga Pokok Pesanan
Dalam penerapan JIT untuk penentuan order pesanan, pertama, perusahaan harus memisahkan bisnis yang sifatnya berulang-ulang dari pesanan khusus.Selanjutnya, sel-sel pemanufakturan dapat dibentuk untuk bisnis berulang-ulang.
           Dengan mereorganisasi tata letak pemanufakturan, pesanan tidak membutuhkan perhatian yang besar dalam mengelompokkan harga pokok produksi. Hal ini karena biaya dapat dikelompokkan pada level selular. lagi pula, karena  ukuran lot sekarang lebih sangat kecil,maka tidak praktis untuk menyusun kartu harga pokok pesanan untuk setiap pesanan. Maka lingkungan pesanan akan menggunakan sifat sistem harga pokok proses.

8.      Penentuan Harga Pokok Proses dan JIT
Dalam metode  proses, perhitungan biaya per unit akan menjadi lebih rumit karena adanya persediaan barang dalam proses. Dengan menggunakan JIT, diusahakan persediaan nol, sehingga penghitungan unit ekuivalen tidak terlalu dibutuhkan, dan tidak perlu menghitung biaya dari periode sebelumnya. JIT secara signifikan mengarah pada penyederhanaan.

9.      JIT dan Otomasi                    
Sejak sistem JIT digunakan, biasanya hanya menunjukkan kemungkinan otomasi dalam beberapa hal. Karena tidaklah umum bagi perusahaan yang menggunakan JIT untuk mengikutinya  dengan  pemilikan  teknologi pemenufakturan maju. Otomasi perusahaan untuk :
(a) menaikkan kapasitas produksi,
(b) menaikkan efisiensi,
(c) meningkatkan mutu dan pelayanan,
(d) menurukan waktu pengolahan,
(e) meningkatkan keluaran.

            Otomasi meningkatkan kemampuan untuk menelusuri biaya pada berbagai produk secara individual. sebagai contoh sel-sel FMS, merupakan rekan terotomasi dari sel-sel pemanufakturan JIT. Jadi. beberapa biaya yang merupakan biaya yang tidak langsung dalam lingkungan tradisional sekarang menjadi biaya langsung.

10.  Penentuan Harga Pokok Backflush
Penentuan harga pokok backflush mengeliminasi rekening barang dalam proses dan membebankan biaya produksi secara langsung pada produk selesai. Perusahaan menggunakan backflush costing jika terdapat kondisi-kondisi sebagai berikut :
1.      Manajemen ingin sistem akuntansi yang sederhana.
2.      Setiap produk ditentukan biaya standarnya.
3.      Metode ini menghasilkan penentuan harga pokok produk yang kira-kira mengasilkan informasi keuangan yang sama dengan penelusuran secara berurutan.
Ada dua perubahan relatif pada sistem konvensional yaitu :
1.      Perubahan Akuntansi Bahan
2.      Perubahan Akuntansi Biaya Konversi

F.     SISTEM KANBAN
1.      Pengertian Sistem Kanban
Sistem Kanban adalah suatu sistem informasi yang secara serasi mengendalikan jumlah produksi dalam setiap proses.
2.  Jenis Kanban
Terdapat tiga jenis Kanban yang sering digunakan, yakni:
a.       Kanban pengambilan (a withdrawal kanban)
b.      Kanban perintah-produksi atau Kanban produksi (a production kanban)
c.       Kanban pemasok .

G.    EFISIENSI
1.      Pengertian efisiensi
Pengertian Efisiensi menurut Stephen & Mary dalam “Management” dinyatakan sebagai berikut :
“Eficiency is getting the most output from the least amount of inputs referred to doing things right”.
2.  Pengukuran efisiensi
Menurut Blocher et al., efisiensi dapat diukur dari Throughput Time :
                                        JIT                       TQC                     Cellular            JIT Zero
                                 Manufacturing     Zero defects         manufacturing       Inventory

Throughput Time = Processing    +       Inspection     +       Moving     +       Storage
Time                    Time                     Time                 Time
 

                      
                           Value added time                       Non value added time
Keterangan :
a.       Throughput Time adalah keseluruhan interval waktu untuk mengolah atau mengkonversikan bahan baku menjadi produk jadi.  
b.      Processing Time adalah waktu yang dibutuhkan untuk memproses atau memproduksi suatu produk dalam proses produksi.
c.       Inspection Time adalah waktu yang diperlukan untuk melakukan inspeksi atau pemeriksaan terhadap bahan baku.
d.      Moving Time adalah waktu yang dikonsumsi saat produk dipindahkan dari satu departemen ke departemen lain.
e.       Storage Time adalah waktu untuk menyimpan bahan baku, produk dalam proses dan produk jadi.
Berdasarkan  Throughput Time, efisiensi dapat dinilai dengan menghitung efisiensi siklus manufaktur atau Manufaktur Cycle Eficiency (MCE) yang merupakan angka yang menunjukkan seberapa efisien suatu produk diproduksi.


Efisiensi dapat dinilai dengan Manufacture Cicle Eficiency (MCE) dengan perhitungan:
MCE     =                       Processing Time
                                                               Throughput Time
Efisiensi dapat juga dinilai dari biaya produksi yang terbagi dalam tiga kategori: Bahan baku langsung (direct material), Tenaga kerja langsung (direct labour), Biaya overhead (overhead cost)

H. PRODUKTIVITAS
1.  Pengertian produktivitas
Menurut Hansen & Mowen, produktivitas adalah berkenaan dengan kegiatan memproduksi output dengan efisien dan secara khusus merujuk ke hubungan output dan input yang digunakan untuk memproduksi output atau merupakan perbandingan antara keluaran dengan masukan.
2.  Pengukuran Produktivitas
Pengukuran produktivitas operasional mempergunakan output yakni jumlah unit produksi yang dihasilkan dengan input jumlah jam tenaga kerja langsung.
Pengukuran produktivitas  =       Jumlah unit produksi (Output)
            operasional                   Jumlah jam tenaga kerja langsung (Input)
Produktivitas dapat diukur dengan membandingkan rasio produktivitas antara dua periode yang berbeda untuk menilai terjadinya kenaikan atau penurunan produktivitas.    


Tidak ada komentar:

Posting Komentar