ACTIVITY
BASED COSTING (ABC) DAN ACTIVITY BASED MANAGEMENT (ABM)
A.
Pengertian Activity Based Costing ( ABC )
Sebelum
mengetahui apa itu yang dimaksud dengan Activity Based Costing (ABC), telebih
dahulu kita mengenal istilah-istilah yang disebut dengan aktivitas, sumber
daya, objek biaya, cost poll, elemen biaya, dan cost driver.
Aktivitas
merupakan tindakan, gerakan, atau rangkaian dari suatu pekerjaan yang
dilakukan. Aktivitas juga dapat diartikan sebagai kumpulan dari tindakan yang
dilakukan dalam organisasi yang berguna untuk tujuan penentuan biaya
berdasarkan aktivitas yang ada. Misalnya pemindahan bahan merupakan suatu
aktivitas dari pergudangan.
Sumber
daya merupakan unsur yang dibebankan atau yang digunakan dalam pelaksaan suatu
aktivitas. Misalnya : gaji dan bahan merupakan sumber daya yang digunakan untuk
melakukan suatu aktivitas.
Objek
biaya merupakan bentuk akhir dimana pengukuran biaya itu diperlukan. Misalnya,
pelanggan, produk, jasa, kontrak , atau unit kerja lainnya dimana manajemen
menginginkan pengukuran biaya secara terpisah merupakan objek biaya.
Elemen
biaya merupakan jumlah yang dibayarkan untuk sumber daya yang dikonsumsi
aktvitas dan yang terkandung di dalam cost poll. Misalnya untuk hal-hal yang
berkaitan dengan mesin mungkin mengandung elemen biaya untuk tenaga, elemen
biaya teknik, dan elemen biaya depresiasi.
Cost
driver merupakan faktor-faktor yang menyebabkan perubahan biaya aktivitas, juga
merupakan faktor yang dapat diukur yang dapat digunakan untuk membebankan biaya
ke aktivitas dan dari aktivitas ke aktivitas lainnya, produk atau jasa. Ada dua
jenis cost driver, yaitu :
1. Driver sumber daya adalah
ukuran kuantitas sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas. Driver sumber daya
ini digunakan untuk membebankan biaya sumber daya yang dikonsumsi oleh
aktivitas ke cost poll tertentu. Contohnya adalah presentase dari luas total
yang digunakan oleh suatu aktivitas.
2. Driver aktivitas adalah
ukuran frekuensi dan intensitas permintaan terhadap suatu aktivitas terhadap
objek biaya. Driver aktivitas digunakan untu membebankan biaya dari cost poll
ke objek biaya. Contohnya, jumlah suku cadang yang berbeda yang digunakan dalam
produk akhir untuk mengukur konsumsi aktivitas penanganan bahan untuk setiap
produk.
Activity
Based Costing adalah metode pembebanan aktivitas-aktivitas berdasarkan
besarnya pemakaian sumber daya, dan membebankan biaya pada objek biaya, seperti
produk atau pelanggan, berdasarkan besarnya aktivitas, serta untuk mengukur
biaya dan kinerja dari aktivitas yang terkait dengan proses dan objek biaya.
Pengertian
mendasar dari sistem ABC adalah adanya analisa terhadap keseluruhan
aktivitas-aktivitas yang bertujuan untuk mengidentifikasi adanya hal-hal
sebagai berikut :
1. Aktivitas yang ada dalam
tiap-tiap dapartemen dan sebab timbulnya aktivitas
2. Dalam kondisi yang bagaimana
setiap aktivitas tersebut dilaksanakan.
3. Bagaimana frekuensi
masing-masing aktivitas dalam pelaksanaannya.
4. Sumber-sumber yang dikonsumsi
untuk melakasanakan masing-masing aktivitas.
5. Faktor-faktor apa yang
menjadi penyebab timbulnya aktivitas tersebut atau pembenahan atas sumber daya
yang dimiliki perusahaan.
Dalam Activity Based Costing (ABC) semua biaya dibebankan ke produk yang
menimbulkan aktivitas atau apabila ada alasan yang mendasar bahwa biaya
tersebut dipengaruhi oleh produk yang dibuat, baik biaya produksi, maupun biaya
non-produksi.
ABC atau penentu harga pokok produk berbasis aktivitas merupakan sistem
informasi tentang pekerjaan atau kegiatan yang mengkonsumsi sumber daya dan
menghasilkan nilai bagi konsumen. Defenisi lain ABC adalah suatu informasi yang
dapat menyajikan secara akurat dan tepat waktu mnegenai pekerjaan atau aktvitas
yang mengkonsumsi sumber biaya aktivitas untuk mencapai tujuan pekerjaan produk
dan pelanggan. ABC dirancang untuk mengukur harga pokok produk melalui
aktivitas-aktivitas. Biaya-biaya akan diukur dari aktivitas ke produk
berdasarkan permintaan tiap-tiap produk terhadap aktivitas selama proses
produksi, sehingga biaya yang timbul masing-masing jenis produk akan terlihat
lebih jelas. Sistem tersebut menerapkan sistem akuntansi aktivitas untuk
menghasilkan perhitungan harga pokok produk yang lebih akurat.
B.
Alokasi Biaya
Secara tradisional, akuntan membebankan biaya kepada produk
hanya berpedoman pada banyak sedikitnya jumlah unit yang dihasilkan sebagai
satu-satunya faktor yang menyebabkan biaya dan aktivitas muncul. Akuntan
menggunakan volume related cost driver untuk membebankan biaya. Setelah
ditelusuri ternyata beberapa biaya dan aktivitas yang muncul bukan dipicu oleh
jumlah unit yang diproduksi sehingga tidak semua biaya overhead yang muncul
dipicu oleh jumlah unit yang diproduksi. Dalam hal ini akuntan harus mengetahui
dasar apa yang bisa digunakan untuk mengalokasikan biaya atas aktivitas dan
mengetahui cost driver yang rasional (Cost Driver merupakan faktor-faktor yang
menimbulkan timbulnya biaya).
Dalam ABC, proses identifikasi aktivitas merupakan salah satu bagian yang
penting dari tahapan tahapan pembbebanan biaya overhead pabrik. Tahap pertama
pada identifikasi aktivitas, aktivitas yang luas dikelompokkan ke dalam 4
kategori aktivitas, yaitu :
1. Unit Level Activities
Berupa
aktivitas atau kegiatan yang dilakukan yang dilakukan sekali untuk setiap unit
sehingga biaya produk yang berhubungan dengan aktivitas yang dibebankan
berdasarkan jumlah unit yang diproduksi. Misalnya : jam tenaga kerja langsung.
Semakin banyak jumlah unit yang diproduksi maka semakin banyak juga
tenaga kerja langsung dibutuhkan.
2. Bacth Level Activity
Yaitu
berupa ativitas atau kegiatan yang dilakukan untuk mendukung produksi sejumlah
order tertentu (batch). Aktivitas ini dilakukan sekali untuk setiap batch
sehingga biaya produksi yang berhubungan dengan aktivitas ini dibebankan
berdasrkan jumlah batch yang diproduksi misalnya : biaya set-up mesin. Semakin
banyak unit yang diproduksi tidak mempengaruhi biaya pada aktivitas set-up,
tetapi semakin sering set-up dilakukan maka semakin besar pula biaya set-up
mesin
3. Product Sustaining Activities
Berupa
aktivitas atau kegiatan yang dilakukan untuk mempertahankan eksistensi suatu produk,
pemeliharaan produk, pengembangan produk dan inovasi produk. Beban biaya yang
terjadi pada aktivitas ini dapat ditelusuri pada setiap jenis produk yang
dihasilkan, tetapi sumber daya yang dikonsumsi tidak tergantung pada jumlah
unit ataupun batch dari produk yang dihasilkan perusahaan. Semakin banyak jenis
produk yang dihasilkan maka semakin sering aktivitas ini dilakukan sehingga
semakin besar biaya yang dibutuhkannya.
4. Facility Sustaining
Activities.
Berupa
aktivitas atau kegiatan yang dilakukan untuk mempertahankan eksistensi
perusahaan, seperti pemasaran, sumber daya manusia, pengembangan sistem,
pemeliharaan fasilitas dan lain-lain. Tetapi aktivitas ini tidak berhubungan
dengan jumlah produk, batch maupun jenis produk.
Sedangkan pada
saat melakukan pembebanan biaya dari tiap kelompok tersebut, biaya yang muncul
tersebut diklasifikasikan sesuai dengan kelompok aktivitasnya, sehingga dalam
membebankan biaya sistem ABC dapat digambarkan dengan dua tahapan, yaitu :
1. Aktivitas yang dilakukan
untuk memenuhi keinginan customer mengkonsumsi sumber daya dalam sejumlah uang
tertentu.
2. Biaya setiap sumber daya yang
dikonsumsi oleh setiap aktivitas harus dibebankan objek biaya atas dasar unit
aktivitas yang dikonsumsi oleh objek biaya itu sendiri.
C.
Konsep Dasar Sistem ABC
Ada dua asumsi
yang penting yang mendasari metode ABC, yaitu :
1. Aktivitas-aktivitas yang
menyebabkan timbulnya metode ABC bahwa sumber daya pembantu atau sumber daya
tidak langsung menyediakan kemampuannya melaksanakan kegiatan bukan hanya
penyebab timbulnya biaya.
2. Produk atau pelanggan jasa
produk menyebabkan timbulnya permintaan atas dasar aktivitas untuk membuat
produk atau jasa yang diperlukan berbagai kegiatan yang menimbulkan sumber daya
untuk melaksanakan aktivitas tersebut.
Asumsi tersebut
diatas merupakan konsep dasar dari sistem activity Based Costing. Selanjutnya,
karena adanya aktivitas akan menimbulkan biaya, maka untuk dapat menjalankan
usahanya secara efisien, perusahaan harus dapat mengelola aktivitasnya. Dalam
hubungannya dengan biaya produk maka biaya yang dikonsumsi untuk menghasilkan
produk adalah biaya-biaya untuk aktivitas merancang, merekayasa, memproduksi,
menjual dan memberikan pelayanan produk.
D.
Perbedaan Tradisional (Job Order Costing) dan ABC
Perusahaan yang
menggunakan ABC adalah perusahaan yang memproduksi berbagai jenis barang
seperti dalam perusahaan yang menggunakan job order costing. Sistem job order
costing disebut sistem tradisional dan ABC adalah :
|
No
|
Tradisional
(Job Order Costing)
|
ABC
|
|
1
|
Semua
produk dibebani biaya produksi, meskipun produk tertentu tidak mengkonsumsi
biaya produksi tersebut
|
Tarif
BOP ditentukan didepan berdasarkan biaya yang dianggarkan atau tingkatan
aktivitas yang diharapkan.
|
|
2
|
Biaya
non produksi seperti biaya administrasi dan pemasaran tidak dibebankan ke
produk tertentu, meskipun biaya tersebut muncul karena memproduksi produk
tertentu tersebut
|
Beberapa
biaya produksi dikeluarkan atau tidak dimasukkan sebagai biaya produksi
barang tertentu, jika biaya produksi tersebut muncul bukan karena memproduksi
barang tertentu tersebut atau dengan kata lain, biaya produksi barang
tertentu hanya dibebani biaya yang timbul karena memproduksi barang tersebut
|
|
3
|
Biaya
produksi selain bahan baku dan tenaga kerja langsung dijadikan satu kelompok
BOP dengan satu ukuran, umumnya diukur berdasarkan jam kerja tenaga kerja
langsung atau jam kerja mesin
|
Terdapat
lebih dari satu poll atau kelompok biaya yang tidak dapat ditelusuri (BOP,
administrasi, pemasaran), dimana masing-masing kelompok biaya mempunyai
ukuran aktivitas tersendiri, sehingga mempunyai tarif tersendiri
|
|
4
|
Tarif
BOP ditentukan didepan berdasarkan biaya yang dianggarkan atau tingkatan
aktivitas yang diharapkan
|
Tarif
alokasi biaya didasarkan pada tingkat aktivitas sesungguhnya, bukan aktivitas
yang dianggarkan ataupun diharapkan.
|
E.
Tahap Menerapkan ABC
1. Mengidentifikasi dan
menentukan aktivitas untuk menjual barang tertentu dan menentukan
kelompok-kelompok aktivitsas. Misalnya aktivitas produksi, dikelompokkan
menjadi kelompok biaya tembahan gaji tenaga kerja langsung, kelompok biaya
produksi karena berlalunya waktu, kelompok biaya produksi yang dibebankan
berdasarkan cash Basis. Aktivitas pemasaran, dikelompokkan menjadi kelompok
biaya gaji, kelompok biaya pengiriman, kelompok biaya iklan.
2. Jika memungkinkan menulusuri
semua biaya BOP, biaya administrasi, dan biaya pemasaran ke barang tertentu,
jika tidak mungkin ke barang tertentu, maka kelompok aktivitas tertentu.
Gaji mandor, total Rp. 160.000, dimana Rp 100.000 khusus terjadi akibat
mengerjakan pesanan jaket.
3. Menghitung tarif alokasi
untuk setiap kelompok biaya, jika memungkinkan berdasarkan cost driver (ukuran
aktivitas penyebab munculnya biaya) untuk setiap biaya.
4. Membebankan dan
mengalokasikan biaya yang tidak dapat ditelusuri (BOP, administrasi,
pemasaran), ke semua barang yang diproduksi dengan menggunakan tarif yang telah
dihitung.
5. Menyusun laporan biaya sistem
ABC.
F.
Manfaat ABC
Manfaat yang
dihasilkan oleh perusahaan yang menerapkan ABC adalah :
a. Memperbaiki mutu
pengambilan keputusan.
Kemampuan ABC menghasilkan informasi biaya produksi yang
lebih teliti dapat mengurangi kemungkinan manajemen melakukan pengambilan
keputusan yang salah. Informasi biaya produksi yang lebih teliti sangat penting
bagi manajemen jika perusahaan menghadapi persaingan yang sangat tajam.
b. Memungkinkan manajemen
melakukan perbaikan terus menerus terhadap kegiatan untuk mengurangi biaya
overhead.
ABC mengidentifikasi biaya overhead dengan kegiatan yang
menimbulkan biaya tersebut. Dengan demikian informasi biaya yang dihasilkan
oleh ABC dapat digunakan oleh manajemen untuk memantau secara terus menerus
berbagai kegiatan yang digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk dan
melayani konsumen. Perbaikan berbagai kegiatan untuk menghasilkan produk dan penghilangan
kegiatan yang tidak bernilai tambah bagi konsumen dapat dipertimbangkan oleh
manajemen berdasarkan informasi biaya yang disajikan dengan ABC
c. Memberikan kemudahan
dalam penentuan biaya relevan.
ABC menyediakan informasi biaya yang dihubungkan dengan
berbagai kegiatan untuk menghasilkan produk, sehingga manajemen akan memperoleh
kemudahan dalam mendapatkan infomasi yang relevan dalam pengambilan keputusan
yang menyangkut berbagai kegiatan bisnis mereka. Jika misalnya menajemen
mempertimbangkan untuk melakukan perbaikan dalam kegiatan set-up fasilitas
produksi, ABC mampu dengan cepat menyediakan informasi batch related activities
cost sehingga memungkikan manajemen mempertimbangkan akibat keputusan mereka
terhadap konsumsi sumber daya untuk kegiatan tersebut.
G.
Tujuan dan Peranan ABC
Tujuan
ABC digunakan untuk meningkatkan akurasi analisi biaya dengan memperbaiki cara
penulusuran biaya ke objek biaya. ABC digunakan juga untuk berbagai objek biaya
yang berbeda yaitu produk secara individual, kelompok prodeuk yang saling
berhubungan dan pelanggan secara individual.
Abc juga sangat
membantu perusahaan untuk dapat mengurangi distorsi yang disebabkan oleh sistem
penentuan harga produk tradisional dan mendapatkan biaya produk yang lebih
akurat. ABC juga menyediakan pandangan yang jelas tentang bagaimana perusahaan
membedakan produk, jasa, dan aktivitas yang memberi kontribusi dalam jangka
panjang.
Menurut
Kamaruddin Ahmad mengatakan bahwa peranan dari sistem ABC :
1. Pembebanan biaya tidak langsung
dan biaya pendukung.
2. Pembebanan biaya dan alokasi
biaya : biaya langsung dan tak langsung.
Berdasarkan kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa pembebanan biaya
merupakan suatu proses pembebanan biaya ke dalam cost poll atau dari cost poll
ke objek biaya. Biaya yang langsung dapat ditelusuri secara langsung ke biaya
atau objek biaya secara mudah dapat dihubungkan secara ekonomi. Biaya yang
tidak langsung tidak dapat ditelusuri secara mudah, dan bahkan sulit untuk
dihubungkan secara ekonomi dari biaya atau cost poll ke cost poll atau objek
biaya.
H.
Keunggulan Activity Based Costing
1. Suatu pengkajian ABC dapat
meyakinkan manajemen bahwa mereka harus mengambil sejumlah langkah untuk
menjadi lebih kompetitif. Sebagai hasilnya mereka dapat berusaha untuk
meningkatkan mutu sambil secara simultan memfokus mengurangi biaya. Analisis
biaya dapat menyoroti bagaimana benar-benar mahalnya biaya manufacturing, yang
pada akhirnya dapat memicu aktivitas untuk mereorganisasi proses memperbaiki
mutu dan mengurangi biaya.
2. ABC dapat membantu dalam
pengambilan keputusan.
3. Manajemen akan berada dalam
suatu posisi untuk melakukan penawaran kompetitif yang lebih wajar.
4. Dengan analaisis biaya yang
diperbaiki, manajemen dapat melakukan analaisis yang lebih akurat mengenai
volume yang dilakukan untuk mencari breakevent atas produk yang bervolume
rendah.
5. Melalui analisis data biaya
dan pola konsumsi sumber daya, manajemen dapat mulai merekayasa kembali proses
manufcturing untuk mencapai pola keluaran mutu yang lebih efisien dan lebih
tinggi.
I.
Kelemahan Acitivity Based Costing
1. Alokasi, beberapa biaya yang
dialokasikan secara sembarangan, karena sulitnya menemukan aktivitas biaya
tersebut. Contoh : pembersihan pabrik dan pengelolaan proses produksi.
2. Mengabaikan biaya, biaya
tertentu yang diabaikan dari analisis. Contoh : iklan, riset, dan sebagainya.
3. Pengeluaran dan waktu yang
dikonsumsi, disamping memerlukan biaya yang mahal juga.
Berdasarkan
kutipan diatas, dapat disimpulkan bahwa ABC memiliki kelemahan yaitu
pengalokasian biaya yang secara sembarangan, pengabaiyan biaya, dan memerlukan
biaya yang mahal dan juga waktu yang cukup lama.
J.
Pengertian ABM.
Activity Based
Managenent (ABM) merupakan suatu konsep yang mengerahkan perhatian pada
konsumsi sumber daya terhadap aktivitas yang dilakukan oleh suatu perusahaan,
sehingga untuk dapat mengetahui bagaimana suatu perusahaan menggunakan sumber
dayanya, maka terlebih dahulu haruslah dipahami mengenai aktivitas-aktivtas apa
sajakah yang telah terjadi didalam perusahaan tersebut. Aktivitas-aktivitas
tersebut merupakan aktivitas yang telah mengkonsumsi sumber daya melalui
pengidentifikasian pemicu biayanya dimana biaya-biaya ini timbul karena
dilaksanakannya aktivitas-aktivitas tersebut.
Pengertian dan
pemahaman yang baik mengenai berbagai aktivitas yang telah dilaksanakan akan
dapat memberikan pandangan yang baik tentang bagaimana menggunakan, mengelola,
dan mengendalikan sumber daya perusahaan, dan dapat pula digunakan untuk
mengetahui peluang yang ada untuk meningkatkan kinerja perusahaan serta
memberi pedoman yang baik untuk menilai kinerja tersebut dalam rangka untuk
mendukung perbaikan berkesinambungan.
Activity Based
Management merupakan pendekatan yang terintegrasi yang memfokuskan perhatian
manajemen pada aktivitas yang bertujuan untuk meningkatkan nilai yang diterima
oleh pelanggan dan meningkatkan laba perusahaan melalau penyediaan nilai
pelanggan tersebut dengan menggunakan informasi yang diperoleh dari Activity
Based System, dimana antara ABM dan ABC saling berkaitan satu sama lain.
K. Dimensi
Activity Based Management
Manajemen
berdasarkan aktivitas memiliki dua dimensi yaitu sebagai berikut :
a. Dimensi biaya (cost
dimension)
memberikan
informasi biaya mengenai sumberdaya, aktivitas, produk dan pelanggan (serta
biaya-biaya lain yang diperlukan), dimana biaya-biaya sumber daya dapat
ditelusuri ke aktivitas-aktivitas dan kemudian di aktivitas tersebut dibebankan
ke pelanggan. Dengan demikian, dimensi ini merefleksikan kebutuhan untuk
membagi sumber daya biaya terhadap aktivitas dan biaya aktivitas terhadap objek
biaya seperti pelanggan dan produk agar dapat menganalisis keputusan critical.
Keputusan tersebut termasuk penetapan harga, pengadaan produk dan penetapan
prioritas untuk usaha perbaikan.
b. Dimensi Proses (process
dimension)
Memberikan
informasi mengenai aktivitas apa saja yang dilaksanakan, mengapa aktivitas
tersebut dilaksanakan dan seberapa baik pelaksanaannya. Dimensi ini menjelaskan
mengenai akuntansi pertanggungjawaban berdasarkan aktivitas dan lebih
memfokuskan pertanggung jawaban aktivitas bukan pada biaya, dan menekankan pada
maksimalisasi kinerja sistem secara menyeluruh bukan pada kinerja secara
individu. Dengan demikian dimensi ini merefleksikan kebutuhan untuk suatu
kategori informasi yang baru mengenai kinerja aktivitas. Informasi ini
menunjukkan apa yang menyebabkan pemicu biaya dan bagaimana pengukuran
kinerjanya.
L.
Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan penerapan Activity Based
Management
Adapun
faktor-faktornya yakni :
1. Budaya organisasi
Mencerminkan
kerangka berfikir dari karyawan termasuk perilaku, nilai, keyakinan yang dianut
karyawan. Budaya organisasi menunjukkan keterlibatan, kerja sama, serta
partisipasi yang tinggi dari seluruh karyawan. Budaya organisasi sangatlah
mendukung keberhasilan dari penerapan ABM di suatu organisasi.
2. Top Management Support and
Commitment
Penerapan
suatu sitem manajemen biaya yang baru seperti ABM dan ABC membutuhkan waktu dan
sumber daya, oleh karena itu dukungan dan peran serta top manajer sangatlah
diperlukan untuk keberhasilan penerapannya
3. Change Process
Perubahan
bisa terjadi apabila diterapkannya suatu proses yang sudah dirancang menghasilkan
perubahan tersebut. Perbaikan dari proses yang sudah ada sangatlah mendukung
keberhasilan penerapannya. Elemen-elemen dari proses diantaranya daftar dari
aktivitas, sekumpulan tujuan, dan tingkatan lanjutan.
4. Continuing Education
Memberikan
kesempatan kepada karyawan untuk mengikuti pelatihan serta meningkatkan
keahlian mereka terhadap lingkungan kerja yang cepat sangatlah penting.
Keberhasilan penerapan dari program manajemen biaya yang baru membutuhkan
keahlian, peran serta dan kerjasama dari karyawan suatu organisasi.
M.
ABM operasional dan ABM strategis
Cooper dan
Kaplan mengelompokkan penerapan ABM kedalam 2 kategori :
1. ABM Operasional
ABM
operasional meningkatkan efisiensi koperasi dan tingkat penggunaan aset serta
menurunkan biaya fokusnya adalah melakukan sesuatu dengan benar dan melakukan
aktivitas dengan lebih efisien. Penerapan ABM operasional menggunakan teknik
manajemen seperti aktivitas manajemen, proses rekayasa ulang bisnis, manajemen
mutu total dan pengukuran kinerja.
2. ABM Strategis berusaha
meningkatkan permintaan akan aktivitas dan profitabilitas pada efisiensi
aktivitas saat ini atau efisiensi yang telah ditingkatkan. ABM strategis
berfokus pada pemilihan aktivitas yang tepat untuk operasi. Dengan menggunakan ABM
Strategis, perusahaan meningkatkan profitabilitas melalui pengurangan aktivitas
yang tidak menunguntungkan, penghilangan aktivitas yang tidak penting dan
pemilihan pelanggan yang paling menguntungkan. Penerapa ABM strategis
menggunakan teknik manajemen seperti perancangan proses, bauran dini produk
pelanggan, hubungan dengan pemasok, hubungan dengan pelanggan (penetapan harga,
ukuran pesanan, pengiriman, pengamasan, dsb), segmentasi pasar dan saluran
distribusi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar